"Saya tidak ingin masyarakat jadi korban PTS yang tidak sehat," kata Nasir saat mengunjungi Kopertis Wilayah III, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (8/1). Ia berharap jangan sampai ada kasus ijazah tidak laku karena PTS yang mengeluarkannya bermasalah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama ini Kopertis menurutnya sudah menginformasikan akreditasi perguruan tinggi, namun hana PTS yang baru diumumkan. Ia berharap masyarakat juga pro aktif mencari informasi terkait akreditasi perguruan tinggi ini.
Pembinaan Perguruan Tinggi
Nasir juga berharap jika sudah diketahui pergurun tinggi mana yang kredibilitasnya rendah, maka nantinya akan ada pembinaan agar bisa lebih memajukan pendidikan Indonesia.
Nasir meminta Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) untuk membuat pengelompokan PTS mana saja yang perlu dibina. "Targetnya September bisa dimulai," katanya.
Sementara itu Ketua Umum APTISI Edy Suandi Hamid mengatakan, perlu seleksi yang cukup ketat untuk pendirian PTS. Jika tidak, PTS bisa dengan mudah berdiri tanpa mempertimbangkan kualitasnya.
"Dalam tiga minggu sebelum kabinet ini terbentuk, ada 95 PTS baru. Sekarang totalnya ada sekitar 3.400 perguruan tinggi," katanya.
Namun dari sekitar 3.400 perguruan tinggi, hanya ada 19 perguruan tinggi yang terakreditasi A, terdiri dari lima PTS dan 14 perguruan tinggi negeri.
Sementara yang terakreditasi B ada sekitar 67 perguruan tinggi. Itupun hampir semua berada di Pulau Jawa. "Hanya ada empat yang berlokasi di luar Jawa. Jadi, ada kesenjangan antara PT di Jawa dan di luar Jawa," katanya. (sur/sur)