Kepastian tidak adanya kotak hitam di ekor pesawat yang patah dan tergeletak di dasar laut pada kedalaman 34 meter itu diketahui setelah tim penyelam terjun untuk mencari perangkat tersebut pada bagian ekor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kamis (8/1), Basarnas menyatakan akan menggunakan pinger locator untuk menemukan kotak hitam apabila kotak hitam itu ternyata tak ditemukan di ekor pesawat yang berada di sekitar 128 kilometer dari Pangkalan Bun dan 188 kilometer dari Pulau Belitung.
Pinger locator beroperasi di bawah laut, dan biasa ditempelkan pada robot tanpa awal yang dikendalikan secara nirkabel dari kapal. Sinyal sonar yang dipancarkan alat itu dapat menjangkau hingga kedalaman 6.000 meter lebih.
Pencarian kotak hitam dengan pinger locator harus hati-hati. Sebelum pinger locator digunakan, area operasi perlu disterilkan, baik dari kapal-kapal maupun para penyelam.
“Kalau mau mengoperasikan pinger locater tidak boleh ada gangguan dari kapal-kapal lain di sekitar,” kata Soelistyo. Seluruh kapal yang ada di area target akan diperintahkan untuk menjauh.
Keselamatan penyelam juga diperhatikan. “Kalau penyelam sedang terjun ke laut, tidak boleh ada pinger locator maupun side scan sonar yang dihidupkan karena telinga penyelam bisa rusak,” ujarnya.
Soelistyo mengatakan dari kotak hitam hanya dapat ditangkap oleh pinger locator. Suara itu tak bisa didengar oleh manusia tanpa bantuan alat tersebut.
Kotak hitam merupakan kunci untuk mengungkap kecelakaan AirAsia QZ8501, sebab alat itu berisi rekaman percakapan antara pilot di kokpit pesawat dengan menara pemandu lalu-lintas udara atau air traffic controller (ATC) di bandara.
(agk)