Rumah Bambang bercat putih, tidak tingkat dan di halaman depannya terdapat rimbun pepohonan. Beberapa sepeda tampak berada di halaman rumah Bambang.
Menurut penuturan warga setempat, Bambang dikenal sebagai sosok yang penuh dengan kesederhanaan. Dia senang beramah tamah dengan warga sekitar serta rendah hati.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak Bambang itu sering ikut pengajian biasa, pengajian warga. Istrinya juga aktif di PKK RT, walaupun arisan kecil, tuh, ya istrinya aktif," ujar Mat Sani.
Meskipun petinggi di Komisi antirasuah, Mat mengatakan tidak ada pengawalan yang digunakan Bambang untuk menjaga rumahnya.
"Rumahnya tidak dikawal kan biasa aja. Paling polisi sesekali datang mengontrol Pak Bambang sudah pulang kerja atau belum, kan," ujar Mat Sani kemudian.
Selain aktif menghadiri acara warga, Bambang juga diakui sering memberikan sumbangan dalam kegiatan yang diadakan di lingkungannya.
"Beliau suka jadi donatur buat acara-acara masyarakat. Ngasih sembako ke warga juga," kata tetangga Bambang, Eva Komalasari (24), kepada CNN Indonesia.
Penangkapan Bambang oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri Jumat (23/1) pagi lalu tidak diduga sebelumnya oleh warga. Eva mengatakan, setelah berita penangkapan beredar luas, beberapa masyarakat sekitar Kampung Bojong Lio langsung memantau berita tersebut.
"Bener-bener tidak nyangka kemarin Pak Bambang ditahan. Kadang mikirnya itu, kan, kasus lama tahun 2010. Kok bisa, sih, dia (Bambang), kan, pejabat tapi ditangkapnya di jalan bukan di rumah," ujar Eva.
Mengenai kiprahnya sebagai penegak antikorupsi, Mat Sani mengatakan ada satu pesan Bambang yang selalu diingatnya. Penegakan hukum harus terus dikawal meskipun ada risiko tersendiri.
"Dia bilang soal umur di tangan Tuhan. Jadi yang benar ya benar, yang salah ya salah," ujar Mat Sani menirukan pernyataan Bambang. (utd/gen)