Berdasarkan data yang dihimpun CNN Indonesia, angka kriminalitas di Jakarta cukup tinggi. Pada 2014, tercatat ada 48.503 kasus pidana yang terjadi di kota ini. Sementara pada 2013, jumlahnya lebih banyak lagi yakni 51.444 kasus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bila fasilitas penerangan minim, warga harus pro-aktif menelepon dinas terkait untuk menambah fasilitas penerangan.
Bila aduan tersebut masih kurang efektif dan tak ditindaklanjuti pihak terkait, Ferdinand menyarankan agar masyarakat memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan aspirasi.
"Bila ada hal yang meresahkan, bisa diadukan lewat media sosial. Sekarang ini para pengambil kebijakan melirik media sosial untuk melihat realitas," kata Ferdinand. Pasalnya, celotehan warga di medsos dinilai lebih jujur.
Apabila menemukan ‘sarang’ orang-orang yang meresahkan, warga juga diminta untuk melaporkannya secara langsung ataupun tak langsung lewat medium media sosial itu.
Ferdinand juga mengingatkan, penggunaan alat-alat tertentu untuk melindungi diri dari kejahatan harus diimbangi dengan kemampuan untuk menggunakannya. “Misalnya jika bawa penyemprot merica, perlu kemampuan khusus untuk menggunakannya. Jangan sampai malah terkena diri sendiri," kata dia.
Namun penyemprot merica dinilai tidak efektif apabila pelaku kejahatan berkomplot. “Penjahat jarang kerja sendiri. Maka dibutuhkan pula peningkatan kehadiran aparat penegak hukum untuk bisa mengurangi niat jahat,” ujar Ferdinand.
Survei Economist Intelligence Unit menunjukkan Jakarta, Tehran, Ho Chi Minh, Johannesburg, Riyadh, Kota Meksiko, Mumbai, Moskow, Delhi, dan Istanbul sebagai 10 kota paling tidak aman di dunia. Sementara Tokyo, Singapura, Osaka, Stockholm, Amsterdam, Sydney, Zurich, Toronto, Melbourne, dan New York diberi predikat sebagai 10 kota teraman di dunia. (agk)