Data pertama, kata Mardjono, pada tanggal 28 Desember 2014 pesawat Airbus A320 bernomor penerbangan PK-AXC itu berada dalam kondisi laik terbang dan dioperasikan dalam batas berat dan keseimbangan yang wajar. Kedua, seluruh awak pesawat memiliki sertifikat kesehatan yang masih berlaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kelima, pada pukul 23.11 GMT, terjadi kontak awal antara pesawat dengan controller Jakarta. Ketika itu, pilot menginformasikan pesawat sedang berbelok ke kiri. "Pesawat itu terindentfikasi radar di Jakarta dan itu dinyatakan oleh ATC Jakarta," ucap Mardjono.
Ketujuh, pada pukul 23.16 GMT, ATC mengatakan cleares the pilot. "Dalam bahasa Indonesianya, mengizinkan pilot naik ke level 34 ribu kaki," kata Mardjono.
Fakta kedelapan, pada saat kejadian tersedia gambar atau foto satelit perihal cuaca yang menunjukkan formasi awan cb dengan puncak berada di sekitar 44 ribu kaki.
Dan data faktual terakhir, posisi terakhir pesawat yang ditunjukan layar radar di Jakarta berada pada koordinat lintang selatan 3 derajat 34 menit 48,36 detik dan bujur timur 109 derajat 41 menit 50,47 detik. "Ketinggian pesawat ketika itu pada level 24 ribu kaki," papar Mardjono.
Tidak seperti preliminary report kecelakaan transportasi biasanya, Ketua KNKT Tatang Kurniadi menyatakan tidak akan mempublikasikan laporan awal kecelakaan AirAsia QZ8501 secara detail. Langkah ini diambilnya untuk mengantisipasi perkembangan investigasi yang akan terjadi ke depan.
"Saya mengambil kebijakan, laporan ini tidak akan goes to public karena masih banyak perkembangan. Saya juga harus berkoordinasi dengan negara-negara yang punya kepentingan. Daripada berkembang terus, lebih baik tidak dipublikasikan," katanya. (sip)