“Pembantu rumah tangga asal Indonesia dianggap sama seperti barang, seperti vacuum cleaner atau pembersih debu. Itu tak hanya merendahkan martabat bangsa Indonesia, tapi manusia secara umum,” kata Direktur Eksekutif Migrant Care, Anis Hidayah, kepada CNN Indonesia, Rabu (4/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia berharap Presiden Joko Widodo mengangkat persoalan iklan kontroversial tersebut dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Malaysia Mohammad Najib Abdul Razak di Malaysia, esok Kamis (5/2).
Ia menekankan, perlindungan terhadap TKI harus menjadi agenda diplomasi utama RI di Negeri Jiran. Pemerintah baru di bawah Jokowi harus memperhatikan persoalan buruh migran secara makro.
Sementara Duta Besar RI untuk Malaysia Herman Prayitno seperti dilansir media Malaysia, The Star Online, menyatakan persoalan TKI memang masuk dalam agenda pembahasan Jokowi bersama PM Malaysia Mohammad Najib Abdul Razak.
“Indonesia berniat mengurangi jumlah pembantu rumah tangga di Malaysia karena sulit bagi kami untuk memantau mereka,” kata Herman.
Menurut Herman, Indonesia ke depannya ingin mengirim tenaga kerja profesional saja untuk ditempatkan di sektor manufaktur dan pertanian. (agk)