"Iya itu hasil survei yang saya belum tahu apa metodologi yang digunakan. Ada banyak kota-kota di China kok yang tidak masuk," tutur Ellen saat dihubungi CNN Indonesia, Rabu (4/2).
Kendati demikian, lanjut Ellen, kemacetan dan kepadatan lalu lintas di Jakarta memang tidak bisa terbantahkan. "Tapi kenyataannya, ya, menurut saya memang seperti itu. Kondisi kita padat dan memang macet juga," terangnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal tersebut juga didukung oleh pengamat transportasi Tigor Nainggolan. Ia bahkan menggambarkan betapa buruknya kualitas dari angkutan umum di Jakarta, yang menjadi penyebab membludaknya pengguna kendaraan pribadi di Jakarta.
Lebih lanjut lagi, Tigor menilai hal tersebut juga disebabkan oleh kebijakan pembangunan Pemda Jakarta yang tidak berjalan dengan baik. Hal ini disampaikannya karena hasil survei yang menunjukkan dalam satu tahun, setiap mobil di Jakarta bisa mengalami 33.240 stop-start. Kemudian dengan total waktu idling sebesar 27.22 persen.
"Stop-startnya tinggi seperti itu kan artinya sudah hampir stuck, itu menunjukkan bahwa dibilang pembangunan kebijakan untuk memperbaiki kemacetan di Jakarta itu tidak jalan. Kenapa? Kita lihat aja angkutan umumnya masih jelek, kan," katanya.
Selain itu, ia juga mengungkapnya betapa banyaknya kendaraan pribadi yang beredar di Jakarta tiap harinya. Ia memperkirakan kurang lebih tujuh juta kendaraan bermotor beredar di Jakarta setiap harinya. (pit/pit)