"Jadi medannya sangat sulit dan mereka (para target) menguasai lapangan. Komunikasi pun sangat sulit," tutur Saud Usman di Gedung Kementerian Koordinasi bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Jakarta, kemarin.
Hal tersebut disampaikannya usai menjalani rapat koordinasi terkait terorisme di Poso bersama dengan Menkopolhukam Tedjo Edhy Purdijatno, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dan Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komisaris Jenderal Badrodin Haiti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi nanti saya akan menyerahkan sejumlah kekuatan baik untuk unsur intelijen atau pasukan, akan saya berikan ke Kapolri menindaklanjuti perintah menyelesaikan permasalahan Poso," kata Moeldoko.
Perkembangan terakhir, sudah tujuh orang yang telah diamankan oleh pihak kepolisian. Mereka adalah Imran yang berpersan sebagai kurir penyedia tempat tinggal, dan menyembunyikan Santoso. Imran juga memfasilitasi pertemuan Santoso dengan istrinya. Sebelum menangkap Imran, polisi menangkap Amirudin alias Aco Tabalu alias Bunga Desa di depan Rumah Sakit Poso, Minggu (11/1). Sama seperti Imran, Amiruddin juga berperan sebagai kurir dan penyedia logistik untuk Kelompok Santoso.
Sementara Ipul alias Saiful Jambi ditangkap karena diduga terlibat kasus Tadrib 2010 di daerah Topoyo, Sulawesi Barat. Iamembuat bom bersama Oca, tersangka yang lebih dulu ditangkap. Ipul ditangkap di Jalan Pulau Sabang, Sulawesi Tengah. Dalam Kelompok Santoso, Ipul menjadi kurir logistik dan pengatur keuangan.
Polisi juga menangkap Rustam alias Ape. Ia diduga berperan mengurus pembelian logistik bagi Kelompok Santoso, mengatur pendanaan, dan membantu pelarian buron teroris.
Sementara dua orang yang ditangkap Sabtu lalu adalah pasangan suami-isteri Hasan dan Ros. Mereka diduga terlibat penerimaan dan pengiriman dana kepada Kelompok Santoso dan mendukung logistik kelompok tersebut. Dari pasangan tersebut, Densus menemukan barang bukti berupa uang tunai Rp 23 juta.
Diketahui, Santoso adalah pemimpin penyerbuan dan pembunuhan terhadap tiga polisi di BCA Palu pada 25 Mei 2011. Selain itu Santoso melakukan delapan kali penyerangan kepada polisi pada 2012 dan menjadi aktor aksi bom bunuh diri di Polres Poso pada 3 Juni 2013. Anggota kelompok teroris ini juga sempat menyebar ke Pulau Jawa, khususnya Jakarta.
Santoso selalu diklaim Polri sebagai pemimpin kelompok teroris yang anggotanya telah ditangkap. Nama Santoso adalah satu dari tujuh buronan teror yang paling dicari pada tahun 2011. Santoso dikenal juga dengan nama Santo dan Abu Wardah.
Sedangkan Daeng Koro merupakan seorang desersi dari salah satu kesatuan elit TNI. Dia menguasai menguasai strategi perang gerilya. Latar belakang militer yang dimiliki Daeng Koro menjadikan pergerakan kelompok teroris tersebut sangat taktis dan sulit ditangkap. (pit/sip)