Rochmat mengatakan, masih banyak siswa yang Pehanya ikut-ikutan dalam memilih program studi. "Siswa Indonesia cenderung lebih tidak realistis dalam memilih program studi. Banyak yang memilih program studi tertentu hanya karena program itu favorit atau bergengsi," kata Rochmat kepada CNN Indonesia, di Gedung Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (9/2).
Menurut Rochmat, tes bakat menjadi sangat diperlukan bagi siswa Sekolah Menengah Atas yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. "Jadi, mereka bisa mengukur dirinya lebih cocok di bidang apa. Dari tes bakat akan diketahui kelebihan serta minatnya di mana," kata Rochmat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun, Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Ravik Karsidi, mengatakan program studi kedokteran, akuntansi, teknik industri, serta teknik informatika merupakan beberapa program studi yang termasuk favorit di UNS.
Untuk tahun ini pun, UNS menyediakan 6.200 kursi dari 54 program studi. "Setiap tahun biasanya program studi yang jadi favorit ya yang itu-itu saja," katanya.
Adapun, peserta SNMPTN tahun ini dapat memilih maksimal dua PTN, dengan ketentuan jika memilih dua PTN, maka salah satu PTN harus berada di provinsi yang sama dengan asal sekolah siswa. "Aturan ini diadakan agar melindungi PTN setempat, agar tetap mendapatkan mahasiwa," kata Rochmat.
Sementara, maksimal program studi yang dipilih adalah tiga, dengan ketentuan satu PTN maksimal dua program studi. Seluruh biaya penyelenggaraan SNMPTN ditanggung oleh pemerintah dengan anggaran Rp 320 miliar. "Anggaran itu untuk SNMPTN dan SBMPTN," kata Ravik yang juga Bendahara SNMPTN 2015. (meg)