"Sampai ada istilah, korupsi di negeri kami terjadi sejak seseorang berada di dalam rahim orang tua hingga uzur dimakan usia," ujar Tony saat berbincang di gelaran diakusi Anti-Crruption Film Festival di kawasan Kuningan, Jakarta, Rabu (11/2).
Tony merasa beruntung karena turut bereperan dalam pemberantasan korupsi di negerinya. Sejak ICAC berdiri pada 1974, Tony telah bergabung sebagai bagian dari anggotanya dan menghabiskan 27 tahun masa hidupnya dengan mendesikasikan diri di sana.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tony menilai fenomena korupsi pada dekade 1960-an di Hong Kong lebih serius dibandingkan dengan yang terjadi di Indonesia saat ini. Tak hanya di level pejabat, korupsi pun merajalela di jalanan.
Stiker dijual seharga tiga dolar Hongkong dan merupakan simbol yang menjadi semacam "kartu sakti". Supir-supir yang membeli stiker kebanyakan pengemudi truk besar dan taksi.
Mereka yang menempelkan stiker di kendaraannya bebas untuk melakukan pelanggaran apa saja. Polisi tidak akan menilang meski mereka melanggar rambu lalu lintas, ngebut, ataupun parkir sembarangan.
"Ini luar biasa. Tapi percayalah, sesulit apapun pemberantasan korupsi itu bisa terwujud dengan dukungan dari rakyat dan pemerintah," ujar Tony. (rdk)