Dalam hal ini, interpelasi diwacanakan terkait langkah Jokowi mengusulkan Komjen Badrodin Haiti selaku calon Kapolri, Rabu (18/2), padahal DPR sebelumnya telah menyetujui Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri. Budi merupakan calon Kapolri yang semula diajukan Jokowi, namun kemudian ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus rekening gendut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ucapan Masinton ini sedikit berbeda dengan yang dikemukakan politikus PDIP yang juga sekomisi dengannya, Dwi Ria Latifa. “Kami tetap pada posisi bersama mendukung Presiden. Itu sikap pasca keputusan Presiden terkait Kapolri dan KPK. Kami tidak akan meninggalkan Presiden,” kata dia.
Kegusaran mayoritas kader PDIP terhadap Jokowi memang tak dapat ditutupi. Sebelumnya, Ketua Dewan Pimpinan Pusat PDIP Trimedya Panjaitan mengatakan kecewa terhadap keputusan Jokowi yang membatalkan pelantikan Budi Gunawan.
Wakil Sekretaris Jenderal PDIP Ahmad Basarah pun mengatakan akan sulit bagi PDIP untuk membela Jokowi apabila usul hak interpelasi para anggota DPR diloloskan. Menurut Basarah, Jokowi seharusnya menunggu status hukum final Budi Gunawan lebih dulu. Apalagi Budi Gunawan telah disetujui oleh DPR sebagai Kapolri.
Sementara politikus PDIP lainnya, Tubagus Hasanuddin, mengajak kader PDIP untuk tetap loyal mendukung Presiden Jokowi sesuai perintah Ketua Umum Megawati Soekarnoputri pada 11 Januari 2015.
“Kita sudah berdarah-darah memperjuangkan dan memenangkan Jokowi sebagai Presiden. Saatnya kita sekarang mendukung Presiden Jokowi bekerja dan menyejahterakan rakyat,” ujarnya.
Hal serupa dikemukakan Budiman Sudjatmiko. Ia meminta kader PDIP mendengar ucapan Aria Bima yang mengingatkan soal pidato Megawati pada acara pembekalan kader 11 Januari itu, yakni sebagai partai pendukung pemerintah, kader PDIP diminta mendukung apapun keputusan Presiden Jokowi. (agk)