Sekretaris eksekutif Komite Aksi Solidaritas Untuk Munir (KASUM), Choirul Anam, menilai BIN ke depannya harus menjadi lembaga yang menjalankan tugas sesuai hukum dan koridor penegakan HAM di Indonesia. Oleh karena itu, menurutnya posisi Kepala BIN harus diisi oleh tokoh yang tidak memiliki potensi keterlibatan dalam kasus pelanggaran HAM di masa lalu.
"Kasum sangat keberatan atas pencalonan As'ad Said (sebagai calon Kepala BIN) selama ia belum pernah diperiksa di pengadilan sampai keluar putusan tetap. Kecuali dia pernah diadili dan terbukti bersih atau tidak dirinya dalam kasus Munir, kami baru menerima. Fakta yg KASUM dapatkan dari investigasi ada keterlibatan As'ad dalam pembunuhan Munir," ujar Anam dalam acara diskusi bertema 'Tarik Ulur Kepala Badan Intelijen Negara' di Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta, Senin (23/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat peristiwa pembunuhan Munir terjadi 2004 lalu As'ad diketahui masih menjabat posisi sebagai Wakil Ketua BIN. "Secara struktur BIN saat itu, dia bertanggung jawab mengeluarkan uang untuk operasi intelijen dan mengurusi segala administrasi. Jadi ada dugaan As'ad terlibat kasus tersebut (pembunuhan Munir) karena wewenangnya yang besar," ujar Anam menjelaskan.
"Fachrul adalah bagian dari masa lalu. Persinggungannya dengan kekuasaan saat transisi politik 1998 lalu membuat posisinya tidak netral. Sjafrie juga saya kira salah satu Jenderal yang bermasalah karena dugaan keterlibatan dalam beberapa peristiwa politik di tahun 1998," ujar Ketua Badan Setara Institute Hendardi dalam kesempatan yang sama.
Untuk menghasilkan Kepala BIN yang sesuai harapannya, Hendardi mengusulkan uji publik dilakukan terhadap calon pemimpin lembaga intelijen negara itu. Selain itu, ia juga ingin agar proses pemilihan Kepala BIN nantinya terbuka dan dapat disaksikan oleh masyarakat luas.
"Calon Kepala BIN harus memberikan harapan baru bagi produk-produk kerja intelijen yang kontributif bagi kemajuan pembangunan bangsa. Proses pemilihan harus terbuka dan calon-calonnya harus diketahui publik serta melalui proses seleksi publik. Karena itu perlu dipertimbangkan calon-calon yang independen, bersih, dan bebas dugaan keterlibatan pelanggaran HAM," kata Hendardi.
Selain memberi nilai buruk terhadap tiga nama calon Kepala BIN dari Pemerintah, dalam acara di Komnas HAM Senin sore tadi juga disampaikan nama-nama calon Kepala BIN yang dipandang memiliki kemampuan dan integritas yang tinggi.
"Calon-calon Kepala BIN yang baik menurut saya adalah Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, politisi PDIP TB. Hasanuddin, Andreas Parera, dan peneliti LIPI Ikrar Nusa Bhakti," ujar Direktur Program Imparsial Al Araf. (pit/obs)