Seiring perkembangan zaman, penyakit yang diderita masyarakat Indonesia menurutnya turut berubah. "Dulu tahun 90-an ISPA tertinggi. Sekarang stroke dan gagal ginjal tertinggi. Kalau gagal ginjal harus cuci darah," kata Nila di Kantor Presiden, Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal-hal lain, fraud (penipuan) dan sebagainya kami atasi dengan kerjasama dan nilai. Kalau ada rumah sakit tipe B, tapi tagihannya melebihi tipe A, tentu kami curiga. Itu pantas diperiksa. Tapi belum tentu juga, mungkin salah coding," ujar dia.
"Ini moral hazard yang bisa terjadi. Hanya bayar Rp 50 ribu belum tentu bulan selanjutnya membayar. Ini juga tadi dibicarakan, bagaimana kita mendidik masyarakat agar kita ini saling membantu untuk asuransi sosial," kata dia.
Nila menghimbau agar masyarakat benar-benar memahami bahwa BPJS Kesehatan dibuat agar setiap warga negara Indonesia memiliki payung hukum ketika sakit. "Bagi yang sehat, tolong mendaftar sekarang. Kalau sakit, kita sudah punya payung dengan asuransi. Ini yang diharapkan dari universal helath coverage 2019, seluruh bangsa kita mempunyai jaminan kesehatan," kata Nila. (sur/sip)