Asia Tenggara, khususnya, diprediksi akan membelanjakan lebih dari US$25 miliar untuk membeli kapal-kapal perang baru hingga 2031. Kapal patroli, fregat, dan kapal amfibi akan mendominasi proyek-proyek pertahanan laut di masa depan.
Pernyataan itu dilontarkan oleh Geoffrey Till, profesor emeritus di bidang studi maritim King's College London. "Angkatan laut negara-negara Asia berinvestasi dalam rudal antikapal, teknologi bawah laut, dan sisem pengamatan maritim," kata Till dalam di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (4/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih lanjut, Till menjelaskan negara perlu berinvestasi untuk angkatan lautnya untuk dapat mempertahankan otonomi strategis mereka di masa mendatang. "Namun, pada umumnya, pembangunan basis industri pertahanan memerlukan biaya yang mahal dalam jangka pendek," kata Till.
Till berpendapat persaingan semakin ketat di antara negara-negara Asia-Pasifik. Apalagi, dengan adanya konsep Presiden Tiongkok Xi Jinping tentang Jalur Sutra Maritim.
"Beberapa pengamat bahkan melihat prospek semacam persaingan senjata angkatan laut di Asia Pasifik," ujar Till. Vietnam, misalnya, mulai merambah dalam pengadaan kapal selam.
Meski begitu, Till berpendapat negara-negara Asia Pasifik seharusnya bisa berkolaborasi untuk melakukan pertahanan maritim, contohnya dalam hal memerangi penangkapan ikan secara ilegal.
"Kolaborasi itu bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga sebuah kebutuhan untuk kepentingan bersama," ujarnya. (pit)