"Ada pihak di otoritas Turki yang secara tidak resmi mengatakan bahwa para WNI yang hilang ini sudah keluar dari Turki. Karena di semua titik pemeriksaan mereka tidak terdeteksi," kata Lalu seusai diskusi yang diadakan Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia di Jakarta Selatan, Jumat (8/3).
Lalu menjelaskan pihaknya telah berkoordinasi secara langsung dengan pemerintah Turki untuk mencari WNI hilang yang dicurigai masuk dalam jaringan ISIS itu. "Kami telah bekerja sama dengan pihak intelijen, imigrasi, serta kepolisian Turki. Mereka mengatakan akan mendalami profil 16 WNI itu," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diberitakan sebelumnya, ke-16 WNI tersebut datang ke Turki sebagai wisatawan yang menggunakan jasa Smailing Tour bersama 25 orang lainnya pada 24 Februari lalu. Adapun, ke-16 orang ini terdiri dari tiga keluarga besar serta dua orang yang tidak mempunyai hubungan keluarga.
"Kalau lihat kronologinya, ini bukan kasus kehilangan. Mereka tidak ikut program tur padahal sudah membayar, ini yang menimbulkan kecurigaan," ujarnya. Apalagi, kata Lalu, basis ISIS berbatasan dengan Turki dengan jarak sekitar 900 kilometer.
Meski begitu, Lalu mengatakan belum bisa memastikan apakah ke-16 WNI tersebut betul-betul punya maksud bergabung dengan ISIS. Saat ini penggalian keterangan dari keluarga ke-16 WNI masih dilakukan dan belum didapatkan keterangan yang kuat.
"Ini merupakan modus baru, di mana WNI menggunakan jasa agen tur untuk bergabung dengan ISIS. Setahu saya, modus seperti ini baru sekarang terjadi," ujarnya. Lalu berpendapat untuk ke depannya pemerintah perlu menguatkan deteksi dini serta pencegahan terkait terorisme. (ded/ded)