"Hari ini kita kehilangan pejuang yang mengubah negara ini dari sistem otoriter ke demokrasi," ujarnya di Taman Pemakaman Umum Menteng Pulo, Jakarta, Minggu (15/3).
Sidharto menuturkan, ia telah mengenal Haryanto sejak peristiwa 1998. "Dia adalah seorang nasionalis yang luar biasa semangatnya," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haryanto pun lalu menuliskan peristiwa penculikannya itu dalam buku berjudul '40 Hari Digenggam Kekuasaan' pada tahun 2008.
Di partai berlambang kepala banteng tersebut, dia sempat diserahi jabatan sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Dewab Pimpinan Pusat PDIP.
Belakangan, Haryanto pindah ke Partai Gerindra. Dia mendaftar sebagai calon legislatif meskipun akhirnya tak lolos ke Senayan.
Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, ditemui saat pemakaman Haryanto, mengatakan sejak beberapa bulan lalu kesehatan koleganya itu memang sudah memburuk.
Namun, tak banyak yang mengetahui informasi ini karena Haryanto selalu menyembunyikannya. "Beliau tidak ingin merepotkan orang lain," katanya.
Muzani mengenang Haryanto sebagai sosok yang konsisten dengan cita-cita. Ia berkata, Haryanto kerap menasehati kader muda Partai Gerindra untuk menghindari godaan-godaan politis. (meg)