Menhut Cari Celah Bebaskan Nenek Asiani

Hafizd Mukti | CNN Indonesia
Rabu, 18 Mar 2015 08:36 WIB
Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya mengatakan jajarannya siap mengawal proses hukum nenek Asiani dengan melihat peluang besar untuk bebas. Nenek Asiani. (Detikfoto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya tengah berada di Situbondo, Jawa Timur untuk menindaklanjuti kasus yang menimpa nenek Asiani dengan tuduhan pembalakan liar. Menurutnya, pihak Kemenhut LH tengah mencari celah untuk bisa membebaskan nenek Asiani yang dilaporkan Perum Perhutani Situbondo.

"Banyak hal yang bakal berkembang dan menurut saya bisa bebas. Peluangnya sangat luas untuk itu," kata Siti kepada CNN Indonesia, Rabu (18/3).

Pelesir Siti ke Situbondo pun sekaligus bertemu dengan Bupati setempat untuk bisa mengawal proses hukum nenek Asiani. Menurutnya, celah yang digunakan Perum Perhutani melalui UU Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan.


Menurut Siti, celah yang bisa ditelisik oleh pihaknya adalah terkait dari bobot kepemilikan dan penguasaan lahannya. Tak hanya itu, dalam UU tersebut muncul kata 'dugaan' dan tidak ada kata yang menyebutkan 'diketahui'.

"Banyak hal yang bakal berkembang, dan menurut saya bisa bebas. Psikologi publik kan ingin bebas."

Siti pun mengapresiasi langkah bupati untuk menjaga keberpihakannya kepada rakyat. Hal itu pun Siti lakukan lewat jajarannya di Kemenhut LH untuk memberikan dukungan.

Dikonfirmasi sebelumnya, jajaran Perum Perhutani mengklaim tak pernah melaporkan Nenek Asyani sebagai pelaku pencurian sejumlah kayu di hutan Bondowoso, Jawa Timur pada Juli 2014 silam. Akan tetapi, manajemen perusahaan pengelola hutan pelat merah ini tak menampik pernah melaporkan kejadian hilangnya kayu jati di petak hutan 43f yang mengakibatkan nenek Asyani beserta tiga orang lainnya ditetapkan menjadi tersangka.

"Untuk penetapan tersangka kami serahkan kepada pihak berwajib, karena yang kami adukan adalah kasus hilangnya kayu dari petak tersebut," ujar Direktur Utama Perum Perhutani Mustoha Iskandar di Jakarta Senin (16/3).

Mustoha menegaskan, laporan hilangnya sejumlah kayu perseroan yang berbuntut penahanan Nenek Asyani beserta tiga orang lainnya yakni Ruslan, Abdus Salam, dan Cipto merupakan implementasi dari aturan yang ada. Pasalnya, dia bilang, pencurian kayu-kayu di hutan Bondowoso merupakan salah satu tindak pidana khusus yang didasarkan UU no. 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan (P3H). (pit/pit)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER