Namun selain lima daerah tersebut, juru bicara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Irfan Idris mengatakan, ada dua daerah lain yang juga rawan yakni Jawa Barat dan Banten.
Menurut Irfan di Jawa Barat ada gerakan pencucian otak untuk memasukan paham ISIS agar warga negara Indonesia mau pergi ke Timur Tengah. "Di Tangerang ada pelatihan memanah dan melempar pisau," kata Irfan dalam diskusi tentang perkembangan ISIS, di Jakarta, kemarin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ideologi seperti ini ibaratnya patah satu, tumbuh seribu. Mau diletakan di mana pun, pasti bisa tumbuh," ujarnya.
"BNPT bukan Superman yang bisa menyorot Aceh sampai Merauke," katanya. Ia mengatakan, hingga saat ini BNPT baru memiliki mitra strategis di 26 daerah.
Untuk melakukan kontra terorisme, lembaga-lembaga yang memiliki kewenangan di sektor ini harus menyelesaikan tugas mereka masing-masing, seperti melakukan deradikalisasi dengan membangun kontra ideologi radikal, meningkatkan kesejahteraan masyarakat hingga penyesuaian instrumen hukum.
"Di Tangerang ada pelatihan memanah dan melempar pisau"Irfan Idris |
"Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 hanya mengakomodasi peristiwa Bom Bali. ISIS bagaimana? Harusnya kan juga dilihat sebagai terorisme," kata Irfan.
Sebelumnya Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Rikwanto juga menyatakan bahwa ada peran pencuci otak di balik bergabungnya sejumlah warga negara Indonesia ke ISIS.
“Kecil kemungkinan (warga bergabung dengan ISIS) hanya terpengaruh dari internet. Ada pihak yang melakukan cuci otak,” katanya.
Sampai saat ini belum diketahui pihak mana yang diduga melakukan pencucian otak itu.
Polisi masih menyelidiki dan mengkategorisasi lebih lanjut puluhan orang yang terlibat ISIS. Kategorisasi dilakukan karena tak semua orang yang bergabung dengan ISIS sepenuhnya paham ideologi radikal kelompok itu.
“Apakah mereka bergabung berdasarkan keyakinan atau hanya ikut-ikutan, perlu didalami. Perlu didalami juga siapa yang mengajaknya," ujar Rikwanto.