"Kalau tidak ada halangan, rencananya berangkat pukul 12.00 WIB malam ini, menggunakan pesawat komersial," kata Krishna Murti di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (1/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketujuh personel Polri tersebut, menurut Krishna, akan bergabung untuk melengkapi tim evakuasi yang sudah lebih dulu ada di negara tersebut. Tim yang dipimpin Krishna merupakan gabungan dari berbagai fungsi Polri seperti ahli forensik, tim intelijen, dokter kepolisian, dan tim khusus perlindungan perempuan dan anak.
"Kenapa hanya tujuh orang, karena ini sifatnya bukan operasi besar-besaran. Ini sifatnya lebih ke koordinasi dengan otoritas yang ada di sana," ujarnya.
Otoritas yang dimaksud, menurutnya, adalah kedua pihak yang sedang bertikai di Yaman. "Pemerintah Indonesia, syukurnya, masih diterima oleh kedua faksi yang ada di sana."
Merujuk pada data Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, saat ini sebanyak 4.159 WNI masih menetap di berbagai kawasan di Yaman. Jumlah tersebut terdiri dari 2.686 mahasiswa, 1.488 pekerja, dan 45 staf KBRI.
Sejak pemerintah mengumumkan rencana evakuasi pada Februari lalu, 175 orang mendaftar dan 148 di antaranya sudah tiba di Tanah Air. Evakuasi lokal terakhir kali dilakukan pada Senin (30/3). Sebanyak 90 orang dilarikan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia Sanaa ke Al Hudaydah.
Yaman semakin berkobar saat koalisi serangan udara di bawah komando Arab Saudi melancarkan serangan untuk memukul mundur pemberontak Syiah Houthi yang mengincar Aden, benteng terakhir pemerintahan Presiden Yaman, Abd-Rabbu Mansour Hadi.
Saudi memulai serangan para Rabu malam (25/3) dan Hadi telah angkat kaki dari negaranya pada Kamis. Dia kini berada di Riyadh. (rdk)