Cerita Soal Reuni Langka Keluarga Suriname-Jawa

Resty Armenia, CNN Indonesia | Minggu, 05/04/2015 07:07 WIB
Cerita Soal Reuni Langka Keluarga Suriname-Jawa Ilustrai reuni keluarga yang terpisah. (Grafvision)
Jakarta, CNN Indonesia -- Brian Atmowerdojo duduk di ruang tamunya, di Lelydorp, kota terbesar kedua di Suriname. Saat itu, Jarum jam menunjukkan pukul 18.00 waktu setempat.

Pada Jumat awal Maret lalu, seperti kebiasaanya setiap petang, Brian terfokus pada layar komputer jinjing yang berada pada pangkuannya. Sebagai kepala sekolah di Surinaamse Technische School Zanderij1, ia tak pernah absen mengintip keranjang surat elektroniknya itu. Laporan para guru soal perkembangan akademik para siswa selalu menjadi santapannya.

Kelar menunaikan tugas inspeksinya, Brian lantas menyisir surel pemberitahuan otomatis dari Facebook. Seperti kebanyakan orang yang melek media, ia terbilang aktif menggunakan media sosial beken itu.


Dalam salah satu e-mail pemberitahuan yang masuk tertulis bahwa ada pesan yang tersiar pada halaman grup "Lelydorpers", sebuah halaman yang berisi para pengguna Facebook yang tinggal di Lelydorp.

Dengan santai, Brian mengklik tautan yang kemudian mengantarnya pada laman pribadi Facebook miliknya. Seorang pengguna bernama Jakiem Asmowidjojo membagi foto yang dipublikasi pengguna lainnya, Fuji Riang Prastowo.

"Seorang mahasiswa dari Indonesia, Fuji Riang Prastowo, berupaya mengontak keluarga Atmowerdojo dari Lelydorp. Rupanya mereka keluarga satu dengan yang lainnya," tulis Jakiem dalam publikasinya.

Dalam publikasinya, Fuji memperlihatkan sebuah gambar yang ia tangkap ketika mencari nama Soemardjan Atmowerdojo di arsip imigran asal Jawa milik pemerintah Suriname. Di gambar itu terangkum pula data diri lengkap serta ciri-ciri Soemardjan ketika pertama kali diangkut di Kapal Djember Nomor 55 dari Semarang, Jawa Tengah pada 27 Juli 1930, ke Paramaribo, Suriname.

Sesaat setelah itu, Jantung Brian berdegup kencang ketika membaca publikasi Fuji. Ia tak percaya petang itu akan menjadi hari bersejarah untuknya. Setelah sekian lama, akhirnya ada anggota keluarga dari bagian lain di bumi sedang mencarinya dan berupaya untuk mengontaknya.

Seraya menyeka air mata, pria berusia 41 tahun itu langsung bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mencari ibu dan istrinya untuk memberitahu tentang apa yang baru saja ia dapati.

Brian adalah anak dari Mardatin Atmowerdojo, putra bungsu Soemardjan. Soemardjan merupakan pria asal Gentan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Soemardjan menikahi Ansorinten dan memiliki anak bernama Djendrowardojo.

Setelah Ansorinten meninggal, Soemardjan menikah lagi dengan Djakijah, seorang wanita asal Rejodani, Gentan. Bersama Djakijah, Soemardjan memutuskan untuk bermigrasi ke Paramaribo, Suriname. Pada 1930, ribuan warga Indonesia, khususnya Jawa, melakukan migrasi besar-besaran ke Suriname untuk menggarap perkebunan gula milik pemerintah Belanda di Suriname.

Soemardjan dan Djakijah memiliki enam anak, yaitu Dollah Basri, Soentari, Soebronto, Soortilah, Wahonno, dan Mardatin. Meski terpisah jauh, Soemardjan tak lantas melupakan Djendrowardojo dan keluarganya di Yogyakarta. Ia masih rajin mengirim surat kepada anaknya itu dengan bantuan tulisan tangan Mardatin, si bungsu yang menguasai baca dan tulis. Sampai akhirnya sekitar tahun 1970, Soemardjan berhenti memberikan kabar, karena terjadi perang menjelang kemerdekaan di Suriname. Separuh keturunan Soemardjan bahkan mengungsi ke Belanda karena tragedi itu. Selain itu, keluarganya di Yogyakarta juga berpindah rumah.

Beruntung, keluarga Ansorinten masih menyimpan seluruh surat Soemardjan. Pasalnya, setelah puluhan tahun tanpa kabar, generasi ke-empat Ansorinten, cucu Djendrowardojo yang bernama Herjuno Nindhito berupaya untuk melacak keberadaan saudara-saudaranya di Suriname dengan berbekal informasi apapun yang tertulis dalam surat-surat itu.

Selama bertahun-tahun, Brian berusaha mencari keluarga ayahnya yang berada di Indonesia. Sama seperti keluarga Herjuno, Brian pun masih menyimpan surat-surat hasil korespondensi Mardatin dan keluarga di Yogyakarta.

"Ayah bercerita bahwa ia memiliki saudara di Indonesia, namun ia tak pernah memberitahu nama saudaranya itu hingga akhir hayatnya. Kupikir surat yang disimpan oleh keluarga Herjuno di Yogyakarta adalah surat yang ditulis ayahku. Ayahku juga masih menyimpan surat-surat dari mereka karena ia yakin suatu hari kami bisa berkumpul kembali dengan keluarga di Yogyakarta," ujar Brian.

Ia juga membuka akun di Facebook dan mencari orang-orang dengan nama Atmowerdojo, berharap bahwa di antara orang-orang tersebut adalah keluarganya. "Hanya dua atau tiga dari orang-orang bernama Atmowerdojo yang tidak kukenal dan mereka tinggal di Suriname, jadi tidak ada 'Atmowerdojo' ditemukan di Indonesia," ujar Brian.

Ia sadar bahwa hal itu terjadi karena penduduk Suriname menggunakan sistem penamaan ala Barat yang masih menggunakan nama keluarga sebagai nama belakang. "Itulah yang membuat pencarian keluargaku di Indonesia sedikit sulit. Terlalu membingungkan," kata dia. Pencariannya itu tak kunjung membuahkan hasil.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Herjuno, dengan bantuan Fuji dan Jakiem, mencarinya menggunakan arsip pemerintah Suriname dan media sosial. Bahkan, pencarian itu hanya memakan waktu kurang dari sembilan jam sejak pertama Fuji mempublikasi gambar data Soemardjan.

Reuni langka ini akan menjadi semakin nyata ketika Herjuno dan Fuji memutuskan untuk mengunjungi Brian di Suriname pada akhir tahun ini. Di sana, keduanya berencana untuk mengunjungi sanak-saudara Herjuno dan nyekar makam Soemardjan. (sip)


ARTIKEL TERKAIT