"UNCBT ditawarkan pemerintah kepada sekolah yang menyatakan siap melaksanakannya. Jadi, sifatnya bukan kewajiban. Makanya, mereka yang sudah menyatakan siap harus menunjukkan prestasi yang baik," kata Arief kepada CNN Indonesia, Jumat (10/4).
Ia juga sepakat dengan anggapan pemerintah bahwa UNCBT bisa meminimalisasi kecurangan, meski dilaksanakan dalam tiga sesi. "Pasti soalnya berbeda pada tiga sesi itu. Tidak mungkin sama," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memangnya yang pagi akan dengan mudah memberitahu? Tidak semudah itu," katanya. Menurutnya, secara psikologis, para siswa akan melihat UN sebagai kompetisi sehingga tidak akan dengan mudah memberitahukan jenis soal kepada temannya.
Lebih lanjut, Darmaningtyas memberikan apresiasi kepada pemerintah karena sudah memulai UNCBT. "Tahun lalu sebenarnya sudah diujicobakan di sekolah Indonesia di luar negeri. Sekarang sudah mulai juga di sini, ya diapresiasi saja" katanya.
Darmaningtyas menilai UNCBT akan sangat menghemat anggaran karena tidak perlu mencetak soal. Selain itu, juga hemat tenaga.
Namun, bila pemerintah serius ingin melaksanakan UNCBT di seluruh Indonesia, diharapkan ada penelitian terlebih dulu. "Setelah dilakukan penelitian, lalu uji coba. Setelah itu lakukan validasi. Barulah, tentukan kebijakannya," ujar Arief. (ded/ded)