"Sudah clear tidak ditemukan benda mencurigakan," kata Tommy kepada CNN Indonesia, Jumat (17/4).
Pesawat dengan nomor penerbangan LD6171 itu mendarat di Bandara Hasanuddin, Makassar karena mendapat ancaman bom. Sesaat setelah mendarat, evakuasi langsung dilakukan terhadap penumpang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain prosedur penanganan dugaan benda mencurigakan, hal yang lebih penting menurut Tommy adalah prosedur pada penumpang terkait adanya ancaman bom ini sudah dilakukan.
Sebelumnya pesawat tersebut diancam bom melalui pesan singkat. Direktur Operasional Batik Air Kapten Daniel Putut mengatakan, pesawat mengangkut 125 penumpang dan 8 kru pesawat. Pesawat itu take off dari Bandara Ambon pukul 06.40 WIT.
Setelah beberapa saat terbang, pada pukul 07.30 WIT, kru darat maskapai Batik Air mendapatkan pesan pendek (SMS) ancaman adanya bom di pesawat tersebut. “Ada bom siap meledak di Batik Air 17 Agustus Ambon-Jakarta,” kata Putut membacakan SMS ancaman tersebut.
Begitu mendapatkan SMS ancaman itu, lanjut Putut, kru darat maskapai Batik Air segera melakukan koordinasi dengan memberikan ancaman itu ke pihak air traffic controller Bandara Ambon serta ke manajemen Batik Air. Air Traffic Controller Bandara Ambon lalu memberi tahukan adanya ancaman bom itu ke pilot Batik Air 6171 tersebut.
“Karena adanya ancama itu, pilot memutuskan untuk mendarat darurat di Bandara Makassar,” tutur Putut. Batik Air itu mendarat di Bandara Makassar pada pukul 07.30 WITA. Begitu mendarat, papar Putut, segera dilakukan isolasi terhadap pesawat. Seluruh penumpang berhasil dievakuasi dengan aman. (Baca juga: Angkatan Udara Terlibat Isolasi Batik Air yang Diancam Bom) (sur)