Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat Badan Narkotika Nasional DKI Jakarta Sapari Partodiharjo, ratusan pil tersebut tergolong obat keras yang penggunaan dan penjualannya harus di bawah pengawasan dokter.
“Ini obat keras, seharusnya tak bisa dijual tanpa resep dokter,” kata Sapari saat dihubungi CNN Indonesia, Sabtu (25/4). (Baca juga: Apotek Penjaja Psikotropika di Depok Digrebek Aparat)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan pengakuan apoteker yang sempat menjalani pemeriksaan oleh Bada Narkotika Nasional Provinsi DKI Jakarta, kata Sapari, pil tersebut mengandung Trihexyphenidyl atau Trihex atau yang lebih dikenal dengan nama Hexymer. Obat ini tergolong sebagai salah satu jenis obat penenang yang biasa digunakan untuk mengobati penyakit parkinson.
Selain menyita pil kuning, Sapari mengatakan instansinya menangkap empat orang pelayan apotek. Mereka berinisial DP 17 tahun, RF 17 tahun, NK 17 tahun, dan MRG 36 tahun. Menurut dia, mereka akan dimintai keterangan lebih lanjut mengenai penjualan pil tersebut. "Efeknya memang membuat tenang, dalam takarn tertentu bisa disalahgunakan dan ini berbahaya," kata Sapari. (sip)