"Kami akan melakukan assesment (penilaian) di Nepal. Dari federasi ada 16 ahli, termasuk ahli dari Indonesia sebanyak dua orang," ujar Ketua Bidang Penanganan Bencana, Letjen TNI (Purn) Sumarsono saat konferensi pers di Markas Pusat PMI Jakarta, Senin (27/4).
Keenam belas orang tersebut, menurut Sumarsono, merupakan gabungan dari delapan negara anggota IFRC kawasan Asia Pasifik yang bermarkas di Kuala Lumpur. Masing-masing negara mengirimkan dua orang ahli sebagai perwakilan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sumarsono, dua ahli ini kemungkinan akan diberangkatkan besok, Selasa (28/4), atau Rabu (29/4), menunggu hasil komunikasi dari pihak federasi dengan palang merah di Nepal terkait situasi dan kondisi bandara setempat.
"Karena ini bagian dari gerakan internasional, kami akan dibagi juga, Indonesia punya keahlian apa, negara lain ada keahlian apa. Federasi yang tahu keahlian masing-masing negara. Nanti juga akan dibagi lokasinya (untuk membantu)," ujar Ketua Pelaksana Harian PMI, Ginandjar Kartasasmita dalam kesempatan yang sama.
Selain mengirim ahli tadi, PMI mengaku juga turut bergabung bersama pemerintah dalam menanggapi bencana gempa di Nepal. "PMI juga masuk di dalam pemerintah bersama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan SAR Nasional," ujar Ginandjar.
Seperti diberitakan sebelumnya, Kepolisian Nepal pada Senin (27/4), melaporkan jumlah korban tewas akibat gempa Nepal bertambah menjadi 3.218 dan korban luka mencapai 6.538 orang.
Saat ini, rumah sakit tak mampu lagi menampung para korban dan akan segera kehabisan persediaan darurat. Beberapa petugas kesehatan kini bahkan merawat orang di jalan-jalan raya.
Merujuk pada data Badan Kesehatan Dunia tahun 2011, Nepal hanya memiliki 2,1 pekerja medis dan 50 ranjang rumah sakit bagi setiap 10 ribu orang.
Tim penyelemat dari India, Pakistan, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Israel sudah berada di Nepal. Beberapa dari tim penyelamatan juga berfokus untuk menggali reruntuhan mencari dan mengevakuasi korban. (meg)