Menurut Kepala Pusat Penerangan Hukum Tony Spontana, Kejaksaan mempertimbangkan pengalaman yang didapat dari eksekusi mati gelombang pertama, awal tahun ini. "Saat disebut tanggalnya malah mengganggu," ujarnya, Selasa (28/4).
Tony tidak menyebutkan secara spesifik gangguan apa yang dimaksud. Namun, dia sempat menyebut pertimbangan ini diambil dengan tujuan untuk menghindari penyusup di lokasi eksekusi mati. (Baca juga: Regu Tembak Siap Eksekusi Sembilan Terpidana Mati)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Walau Kejaksaan terus bungkam mengenai waktu pelaksanaan, pengacara terpidana mengaku sudah menerima notifikasi 72 jam yang menyatakan eksekusi akan dilaksanakan dini hari nanti (29/4).
Belum lagi, Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Inspektur Jenderal Nur Ali juga telah memastikan regu tembak siap mengeksekusi para terpidana. "Regu tembak siap, ada 14 orang tiap tim dikali sebanyak itu (sembilan terpidana)," ujarnya.
Sembilan terpidana mati yang akan dieksekusi di antaranya adalah tiga warga Nigeria, Jamiu Owolabi Abashin yang lebih dikenal sebagai Raheem Agbage Salami, Okwudili Oyatanze, dan Silvester Obiekwe Nwolise. Ada pula Rodrigo Gularte dari Brasil, Martin Anderson dari Nigeria, dan Zainal Abidin dari Indonesia. Selain itu, terdapat duo Bali Nine, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Seluruh terpidana mati kini diisolasi di LP Besi. (Baca juga: Eksekusi Mati Tinggal Hitungan Jam, 12 Ambulans Disiapkan) (sur)