"Kami sekarang menunggu surat resmi dari otoritas Filipina untuk mengajukan permohonan dan kesanggupan mengenai penyelenggaraan video conference," ujar Kepala Pusat Penerangan Hukum Tony Spontana di Kejaksaan Agung, Jakarta, Selasa (5/5). (Baca juga: Jaksa Agung: Eksekusi Berikutnya Tunggu Evaluasi Tahap Dua)
Kejaksaan Agung berjanji akan menyiapkan sarana dan prasarana, termasuk lokasi dan kesiapan teknologi untuk pelaksanaan video conference. Sementara untuk pembiayaan, pemerintah Filipina setuju akan menanggungnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sana (otoritas Filipina) bisa menyesuaikan. Awalnya kan mereka minta tanggal 8 dan 14 Mei. Mungkin bisa berubah sepanjang persiapannya ini sudah siap 100 persen," ujar Tony.
Pada (29/4) dini hari lalu, di menit-menit akhir sebelum eksekusi, Presiden Joko Widodo memutuskan memberi kesempatan kepada Mary Jane Veloso untuk menjalani pemeriksaan atas permintaan pemerintah Filipina. Presiden kemudian memerintahkan Jaksa Agung HM Prasetyo untuk menunda eksekusi terhadap sang terpidana. (Baca juga: Filipina Akan Ajukan Lagi Pengampunan untuk Mary Jane)
Penyelidikan baru terkait kasus Mary Jane dimulai sejak Selasa (28/4), ketika Maria Kristina Sergio atau Mary Christine Gulles Pasadilla mendatangi Kantor Polisi Daerah Nueva Ecija di Cabanatuan, Filipina, secara sukarela. Dia mengaku telah merekrut sang terpidana mati secara ilegal dan menjadikannya korban kejahatan penjualan manusia. (pit)