Salah satunya diwujudkan dengan pemberian grasi kepada lima orang tahanan politik di Papua. Selebihnya, menurut Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, pemerintah bakal memberikan amnesti dan grasi secara menyeluruh terhadap para tahanan politik Papua.
Pigai mengatakan jika amnesti hanya bersifat luar biasa saat dibawa ke Papua, tapi biasa saat ada di Jakarta. "Amnesti itu sama dengan grasi, hak prerogatif presiden. Itu pun diumumkan saja di Jakarta, bukan di Papua," kata Pigai saat dihubungi CNN Indonesia, Rabu (6/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Oleh sebab itulah, Pigai pun menegaskan jika pemberian amnesti saat Jokowi mengunjungi Papua tak perlu menjadi oleh-oleh bagi rakyat Papua. Apalagi, saat ini kondisi di Papua sedang ada dalam kondisi yang mengkhawatirkan.
Sebelumnya Pigai pesimis Jokowi bisa membuat kondisi di Papua aman dalam lima tahun masa kepemimpinannya. Hal tersebut, kata Pigai, terjadi akibat orang-orang dekat Jokowi tidak ada yang peduli dengan kondisi di Papua.
Papua, lanjut Pigai, saat ini terasa seperti sebuah provinsi yang terletak di negara tanpa pemimpin. Jokowi tak bisa berbuat apa-apa dalam mendamaikan Papua lantaran orang-orang dekatnya juga tidak dipercaya oleh masyarakat Papua.
"Masyarakat Papua itu lebih percaya pada tokoh agama di sana, maka dari itu jika orang di dekat Jokowi bukan berasal dari Papua maka mereka tidak akan dipercaya oleh masyarakat Papua," katanya."Lima tahun Jokowi tidak akan bisa membangun Papua. Papua belum aman dan seperti berada di negara tanpa pemimpin." (sip)