Sekretaris Umum Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia (IKOHI) Zaenal Muttaqin menyatakan ini kali pertama pergelaran budaya untuk memperingati Tragedi Mei 1998 dilakukan di pelataran Mal Citra Klender, yang sebelumnya dikenal dengan Yogya Plasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Supaya mereka tahu dan mengerti bahwa pernah terjadi Tragedi Mei 1998. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," katanya.
"Jokowi seharusnya tidak boleh takut! Selama ini ia dan Presiden-Presiden sebelumnya ketakutan mengakui kasus pelanggaran berat hak asasi manusia yang sudah terjadi," katanya. (Baca Juga: JK: Pemerintah Sudah Upaya Maksimal usut Tragedi Mei 98)
Pernyataan serupa turut dilontarkan para keluarga korban. "Pengakuan negara itu penting. Pemerintah harus bertanggung jawab dan bukannya malah menuduh para korban sebagai penjarah dalam kerusuhan itu," kata Maria Sanu (67).
Maria menceritakan tujuh belas tahun lalu, ia kehilangan sang buah hati yang bernama Stevanus Sanu. "Kala itu, Stevanus masih 16 tahun. Sampai sekarang belum jelas apa yang terjadi kepadanya," kata Maria. (Lihat Juga: Keluarga Korban Tragedi Mei 98 Kecewa dengan Jokowi)
Pada 14 Mei 1998 silam, Mal Citra Klender yang pada waktu itu bernama Yogya Plasa menjadi salah satu tempat kerusuhan. Mal ini dibakar dan ratusan korban meninggal. Berdasarkan keterangan dari Laporan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), puluhan pemuda berseragam SLTA datang membawa jerigen yang diturunkan dari sebuah truk warna merah.
Sampai dengan detik ini, menurut keterangan Ikatan Keluarga Orang Hilang (IKOHI) diperkirakan terdapat ratusan keluarga korban yang masih tidak mengetahui keberadaan keluarganya. (utd)