Zaenal mengatakan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) telah menemukan pada 14 Mei 1998, sejumlah pria berambut cepak dan berbadan tegap membawa jerigen bahan bakar untuk membakar Yogya Plasa, Jakarta Timur secara sengaja. (Lihat Juga: FOKUS Menanti Sikap Jokowi soal Mei 98)
"Yogya Plasa dijadikan target karena mereka yakin bahwa pemiliknya berasal dari etnis Tionghoa. Dari fakta yang ada, jelas sekali bahwa itu ulah militer," kata Zaenal saat ditemui di Mal Citra Klender, Jakarta Timur, Selasa (12/5). Yogya Plasa kini berubah nama menjadi Mal Citra Klender.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengatakan pola yang sama terjadi di Solo. Kejadiannya hampir sama, yaitu dimulai dengan adanya provokasi untuk membenci etnis Tionghoa. "Makanya kami yakin kerusuhan itu sudah terencana. Ratusan orang meninggal karena terjebak di dalam mal," kata Zaenal.
Sementara itu, diwawancarai secara terpisah, Kepala Pusat Penerangan Tentara Nasional Indonesia (Kapuspen TNI) Mayor Jenderal TNI M. Fuad Basya mengatakan pernyataan IKOHI sebagai bentuk tudingan kepada pihak TNI. (Lihat Juga: JK: Pemerintah Sudah Upaya Maksimal usut Tragedi Mei 98)
Oleh karenanya, Faud menolak menanggapi lebih jauh soal pernyataan IKOHI tersebut. “Kalau seperti itu menuding, kami TNI tidak mau menanggapi. Kami tidak mau ada tuding menuding,” ujar Fuad saat dihubungi CNN Indonesia, Selasa (12/5).
Fuad menyatakan seharusnya pihak IKOHI meminta penjelasan secara langsung dan resmi ke TNI. “Bisa ke saya melalui surat resmi yang dilayangkan nanti akan TNI jawab dan jelaskan juga melalui surat atau pernyataan resmi,” kata Fuad. “Jadi tidak ada tuding menuding, harus bisa dipertanggungjawabkan.”
Fuad juga mengingatkan bahwa saat ini yang terpenting yaitu seluruh komponen masyarakat harus bisa melihat masa depan bangsa. “Lihat ke depan, masa depan bangsa ini,” ujar Fuad dengan tegas. (utd/utd)