Kamis, 18 Januari 2007, merupakan hari pertama kali Maria Katarina Sumarsih -ibunda dari Bernardinus Realino Norma Irawan alias Wawan, mahasiswa dari Universitas Atma Jaya yang tewas pada tragedi Semanggi I- mematung di depan Istana Merdeka. Hari itu memang merupakan hari pertama aksi Kamisan dimulai.
Panas, hujan, bahkan banjir pernah mereka alami. Namun, mereka tak peduli, diam berdiri melihat langsung lurus ke istana menembus teralis dan penjagaan menjadi sikap setiap aksi. Saat ini, delapan tahun telah mereka lewati. Kamisan sudah digelar sebanyak 396 kali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Berawal dari ibu-ibu para korban kekerasan, Ibu Sumarsih dan Suciwati yang mengkoordinasi semua selama delapan tahun berjalan. Tempatnya masih di depan Istana," kata Sekretaris Jenderal Ikatan Orang Hilang (Ikohi) Zaenal Muttaqin kepada CNN Indonesia, Kamis (14/5).
Dua orang ibu itu lantas tak sendiri. Seorang korban kekerasan peristiwa 1965, Bejo Untung menemani mereka. Digenapi Bejo, mereka ibarat trio yang selalu menyerukan negeri ini tak baik-baik saja bagi mereka korban kekerasan. Bejo rutin hadir di Kamisan dengan agenda rehabilitasi bagi mereka korban kekerasan Partai Komunis Indonesia (PKI) di 1965/1966.
"Mereka bertiga lah yang akan terus duduk, diam dengan payung hitam di depan Istana," ungkap Zaenal.
Suciwati dan Presidium Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), Sumarsih (kanan) melakukan aksi damai Kamisan di depan Istana Negara, Kamis, 23 Oktober 2014. Aksi Kamisan yang ke-371 dan bertepatan kepemimpinan pemerintah baru Joko Widodo, mereka meminta dan menagih janji Jokowi terkait penuntasan kasus Pelanggaran HAM berat. (CNN Indonesia/Safir Makki) |
Pemimpin bangsa berganti, asa tetap menggelayuti mereka, setelah Susilo Bambang Yudhoyono kini berganti Joko Widodo. 12 Mei 17 tahun yang lalu, di halaman parkir Gedung Mall Klender yang dulu dikenal Yogya Plaza menjadi satu di antara tempat peringatan kekerasan, pembunuhan dan penculikan 1998, pun itu yang ingin disampaikan Suciwati dan kawan-kawan, untuk terus mengingatkan rasa kehilangan.
Kamis, di seberang Istana, harapan itu tetap ada. Pertanyaan itu muncul, sampai kapan trio pencari keadilan itu tetap beraksi? Adalah saat asa hanya tinggal berada di pundak, Suciwati, Sumarsih dan Bejo, saat aksi Kamisan hanya tinggal mereka yang usahakan, hanya tinggal meraka bertiga yang mengingatnya.
"Ibu Suciwati bilang, Kamisan akan berhenti jika aksi hanya tinggal dilakukan oleh tiga orang saja. Maka aksi akan dihentikan" kata Zaenal. (sip)
Suciwati dan Presidium Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK), Sumarsih (kanan) melakukan aksi damai Kamisan di depan Istana Negara, Kamis, 23 Oktober 2014. Aksi Kamisan yang ke-371 dan bertepatan kepemimpinan pemerintah baru Joko Widodo, mereka meminta dan menagih janji Jokowi terkait penuntasan kasus Pelanggaran HAM berat. (CNN Indonesia/Safir Makki)