“Malam 20 Mei, Pak Amien Rais mau membawa mahasiswa demonstrasi ke Istana dan Monas dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional,” kata Yusril kepada CNN Indonesia, Rabu malam (20/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tragedi Tiananmen di Beijing, Tiongkok pada 1989 menewaskan lebih dari 3.000 mahasiswa. Mereka dibunuh tentara saat berdemonstrasi memprotes ketidakstabilan ekonomi dan korupsi politik, serta menuntut demokrasi.
Khawatir Pembantaian Tiananmen terjadi di ibu kota RI, Yusril dan Prabowo terus-menerus membujuk Amien untuk tak membawa para mahasiswa ke Istana. “Pak Amien tenang saja, Pak Harto pasti mundur,” kata Yusril lagi kepada Amien. Menurut Yusril, sikap Prabowo saat itu tak kalah keras demi menghindari pertumpahan darah.
Maka Yusril bersyukur bukan main ketika Amien Rais menuruti sarannya. “Alhamdulillah, Pak Amien tidak jadi menggerakkan mahasiswa ke Istana,” ujarnya.
Namun ketegangan tak lantas berakhir. Pada 20 Mei sore, menteri-menteri Soeharto mundur. Sekitar pukul 14.30, sebanyak 14 menteri bidang ekonomi menggelar pertemuan dan memutuskan tak bersedia duduk di Komite Reformasi maupun Kabinet Reformasi hasil perombakan Soeharto atas Kabinet Pembangunan VII.
Keputusan itu kemudian mereka sampaikan kepada Soeharto melalui sepucuk surat, tak langsung secara lisan. Di sinilah kesalahpahaman sempat terjadi.
Simak kisah soal kesalahpahaman yang dimaksud Yusril di laporan berikutnya. (agk)