Radio tersebut seolah-olah meretas batas tembok tinggi penjara dengan situasi ibu kota yang tengah memanas. Melalui radio itu detik-detik kejatuhan Soeharto dari tampuk kepemimpinan tertinggi di di Indonesia didengar bersama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya sebagai Presiden 21 Mei 1998, Budiman yang justru sejak awal rajin menggelar aksi menolak Soeharto, sedang dipenjara.
Bukan hanya para sipir, beberapa tahanan politik lainnya yang ditahan di Salemba juga memberikan ucapan selamat. Saat itu yang mendatangi Budiman untuk mengucapkan selamat adalah pemimpin gerakan pro-kemerdekaan Timor Timur Xanana Gusmao, dan Kolonel Latief yang dituduh terlibat G30S PKI.
Berita lengsernya Soeharto melalui radio itu merupakan puncak penantian Budiman di tahanan. Sebelumnya ia setia mendengarkan radio tersebut mengikuti pergerakan gelombang massa penolakan di luar penjara. (Baca juga: Budiman: Kematian Jadi Harga Lengsernya Soeharto)
Budiman mengaku sudah memperkirakan bahwa Soeharto bakal jatuh. Perkiraan itu muncul karena adanya peristiwa berdarah di Trisaksti.
"Dari radio kok di Trisakti ada lagu gugur bunga? Kami pikir siapa tokoh yang meninggal. Ternyata mahasiswa Trisakti," jelasnya. (Baca juga: Prahara Ekonomi Menutup Masa Jaya Sang Jenderal Besar)
Jatuhnya korban jiwa diyakini Budiman akan memunculkan gelombang massa yang besar. "Dari saat itu, kami berpikir ini tinggal hitungan hari Soeharto pasti jatuh," ujarnya.
Padahal sebelumnya Soeharto terus berupaya meredam gejolak di arus bawah dengan menjanjikan pembentukan komite reformasi. Tewasnya mahasiswa Trisakti jadi titik balik dan meluluhkan Soeharto sehingga mau menuruti kemauan massa saat itu. (sur)