"Rohingya ini seperti Tionghoa di Indonesia beberapa tahun lalu. Kami juga mengalami kondisi diskriminasi," kata Suhadi yang juga merupakan keturunan etnis Tionghoa itu.
Lebih lanjut Suhadi menjelaskan, permasalahan Rohingya disebabkan adanya regulasi dari pemerintah Myanmar yang tidak mengakui etnis Rohingya sebagai salah satu warga negaranya. Padahal etnis Rohingya sudah ribuan tahun tinggal di Myanmar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi, di sisi lain, Suhadi juga menyatakan kalau etnis Rohingya juga harus lebih meningkatkan kesadaran dalam bermasyarakat dan bernegara. "Tapi dalam hal ini pemerintah Myanmar seharusnya memerhatikan pendidikan bagi warga Rohingya," jelasnya.
Namun, Suhadi menekankan kalau proses ini tidak akan berlangsung instan. Butuh proses puluhan tahun tentunya untuk Rohingya kembali hidup damai di negaranya. Sama seperti etnis Tionghoa yang butuh waktu puluhan tahun untuk diakui di Indonesia.
Banyak pihak yang menyakini kalau konflik Rohingya bukanlah konflik agama. Konflik ini lebih kepada konflik kemanusiaan dengan adanya indikasi penghapusan etnis di Myanmar.
Direktur Abdurrahman Wahid Center, Ahmad Suaedy beberapa waktu lalu mengatakan para pengungsi Rohingya sebenarnya bukan mengalami diskriminasi agama. Tapi lebih pada etnis cleansing.
"Dulu tidak ada pembedaan antara etnis-etnis yang tinggal di Myanmar. Perbedaan etnis minoritas baru terjadi pada tahun 60-an ketika kudeta militer. Tahun 80-an dikeluarkan dekrit tentang etnis dan ada 10 etnis besar yang diakui dan lainnya tidak diakui termasuk Rohingya," kata Suaedy. (pit)