"Kemarin sudah gelar dengan penyidik dan memeriksa alat-alat bukti yang dikumpulkan dan dicari, dari hasil tersebut dapat kesimpulan Akseyna tidak bunuh diri," ujar Iqbal kepada wartawan di kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (28/5).
Meski demikian, Iqbal mengatakan, hingga kini Polda Metro Jaya dan Polres Depok belum bisa mengidentifikasi siapa pelaku yang diduga membuhun Akseyna.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pertama karena ada indikasi tulisan itu bukan identik tulisan korban, yang kedua bahwa kalau dia bunuh diri dengan mengikatkan diri di tas dia masih punya peluang utk melepaskan membuang batunya jadi kemungkinan dia sudah tewas dulu baru ditenggelamkan. Kalau dia masih hidup dia kan masih bisa melepaskan," ujar Krishna.
"Alibinya itu begini, dia bergaul sama siapa, hubungan dengan siapa, terakhir bagaimana. Hal itu nanti diungkap, kemarin penyidikan awal menduga bunuh diri setelah itu ada statement korban dibunuh," ujranya.
Lebih lanjut, Krishna mengatakan perlu kehati-hatian dalam menentukan siapa yang bertanggung jawab atas kematian Akseyna. "Dalam kasus ini kita harus hati-hati dalam pengungkapan," ujarnya.
Sebelumnya, Akseyna Ahad Dori (18) merupakan Mahasiswa angkatan 2013 Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) ditemukan mengambang dalam posisi memakai tas berisi batu seberat 14 kilogram dan tak dikenali identitasnya di danau Kenanga UI pada Kamis 26 Maret 2015. Identitas Akseyna baru diketahui pada Senin 30 Maret 2015.
Saat proses penyelidikan beberapa waktu lalu, penyidik menemukan sepucuk surat di kamar kosnya yang berisi permintaan maaf serta untuk tidak mencarinya lagi semenjak surat tersebut ditemukan.
Namun, Grafolog dari American Handwriting Analysis Foundation, Deborah Dewi yang dipanggil oleh polisi untuk membantu mengungkap tulisan tangan dari Aksyena menyatakan bahwa tulisan surat yang ditinggal kan Akseyna tak dibuat oleh Akseyna, melainkan orang lain.
(meg)