"Selain jumlahnya yang kurang, kualitas buku untuk anak-anak juga masih kurang bagus. Misalnya, penulisan ceritanya tidak sesuai untuk anak-anak," kata Anies saat ditemui di Gedung Kemendikbud, Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (29/5).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Anies menilai kreativitas penulis dan pencerita harus ditingkatkan lagi. "Ada kecenderungan membacakan cerita dengan intonasi datar. Padahal, anak-anak maunya yang ekspresif," ujarnya.
Padahal, kata Yanti, anak-anak harus dibiasakan membaca sejak dini agar menjadi budaya. "Kalau ceritanya menarik mereka jadi mau tahu lebih banyak dan mencari sendiri bacaan-bacaan yang lain. Sejak dini sekali anak harus diperkenalkan kepada dunia membaca," katanya.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Hamid Muhammad mengatakan minat baca Indonesia masih rendah. "Hasil studi UNESCO mengungkapkan pada tahun 2013, hanya satu dari 1000 orang Indonesia yang suka membaca," katanya.
Ia juga mengutip survei Badan Pusat Statistik pada 2013 yang mengungkapkan orang Indonesia paling gemar menonton televisi. "Sebanyak 91,68 persen orang Indonesia gemar nonton televisi, sementara yang suka baca surat kabar hanya 17,6 persen," katanya. (utd)