"Nanti setelah acara di Solo, Presiden inginnya ada acara di Jakarta. Di Solo itu acara keluarga perempuan," ujar Pratikno di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (3/6).
Pratikno menjelaskan, dalam tradisi Jawa, mantu adalah acara pengantin wanita, sementara ngunduh mantu merupakan acara mempelai pria. "Presiden itu putranya laki-laki, jadi namanya ngunduh mantu, itu setelah mantu," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian, imbuh dia, acara pernikahan yang akan digelar di Solo pada 9-10 Juni 2015 nanti itu merupakan rangkaian prosesi menjelang acara panggih dan akad nikah atau yang dikenal dengan nama midodareni, yang dilakukan oleh sang mempelai wanita, sebelum melaksanakan upacara pernikahan pada keesokan harinya, 11 Juni 2015.
"Kalau ada tamu seperti itu kewajiban pemerintah soal keamanan dan keprotokleran. Aparat daerah akan pusing, makanya kami bantu, supaya lebih sederhana," ujar dia.
Pratikno mengaku sejauh ini belum ada tamu asing yang diundang. "Sampai saat ini belum ada, nanti tanya pihak mantennya sana. Yang saya tahu belum ada permintaan keamanan dan keprotokoleran kepala pemerintahan dari negara lain," kata dia.
Ia juga menyampakan, presiden dan keluarga akan mematuhi aturan yang berlaku yang melarang untuk menerima kado dari undangan. (adt)