“Pak JK bukanlah ahli agama, tapi Pak JK adalah muslim yang beragama dengan baik. Mungkin dia sedang berusaha memaknai apa yang terjadi dengan bagaimana kita menjalankan ritual agama. Dia ingin jangan sampai mengganggu orang lain,” ujar Abbas saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (8/6).
Abbas melihat, sekarang ini banyak muslim yang dalam menjalankan ritual banyak mengganggu kepentingan orang lain. Seperti menggunakan pelantang suara yang kurang tepat penggunaannya, sampai dengan menutup jalan umum. Ritual yang mengganggu ini ada baiknya mulai disikapi dengan lebih bijaksana oleh umat muslim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, JK saat pembukaan Ijtima Komisi Fatwa MUI di Tegal menyayangkan maraknya rekaman pengajian yang diputar menggunakan kaset sebelum dimulainya salat di masjid-masjid. Menurutnya rekaman pengajian seperti itu berpotensi menimbulkan “polusi suara” dan dinilai juga tak mampu memberikan pahala pada individu yang mengaji.
"Berhentikan itu, apa urusannya Anda mengaji pakai kaset, tidak ada pahalanya itu. Kalau ada pahalanya, itu orang Jepang yang dapat karena itu pasti pakai Sony," kata JK dalam pidato
JK, yang menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengatakan pemutaran rekaman mengaji lewat kaset tidak efektif dan efisien serta malahan mengganggu ketenangan masyarakat sekitar. Ditambah lagi mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam membuat banyaknya masjid dalam jarak dekat dan juga membuat tumpang tindih suara di antara masjid tersebut.
"Ini pengalaman saya kemarin jam empat pagi saya sudah dibangunkan empat masjid dan dihajar pengajian kaset," kata mantan Ketua Umum Partai Golkar ini. (hel/hel)