"Pemerintah cukup mengembangkan satu data saja. Data tersebut nantinya bisa diminta pemda untuk menjalankan program pengentasan kemiskinan," kata Basuri saat ditemui di kantor bupati, Manggar, Belitung Timur, Senin (8/6). (Lihat Juga: Data BPS Dituding Tak Valid Untuk Bansos)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Program yang dijalankan di Belitung Timur tersebut menyasar keluarga yang masuk dalam kategori sangat miskin namun belum terdaftar dalam PKH. Saat ini, 910 keluarga menjadi peserta PKP dengan bantuan maksimal Rp 3,5 juta per tahun.
Berdasarkan data BDT TNP2K 2011, tingkat kemiskinan di Belitung Timur tercatat 6,9 persen dari total masyarakat Belitung Timur dengan jumlah masyarakat rentan miskin dan miskin di kabupaten tersebut sebanyak 8.734 rumah tangga atau 30.674 jiwa. Sementara itu, dalam skala nasional, jumlah penduduk Indonesia yang masuk kategori rentan miskin dan miskin mencapai 24,7 juta rumah tangga atau 96,7 juta jiwa.
Namun, Basuri mengatakan pihaknya masih menemukan adanya ketidakakuratan beberapa data. Misalnya, ada warga yang ambil Beras Miskin (Raskin) dengan naik motor. "Namun, data yang salah hanya satu atau dua," kata Basuri. (Baca Juga: Khofifah: Pembaruan Data Warga Miskin Terkendala Dana)
Di sisi lain, Basuri menjelaskan koordinasi yang kurang lancar antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dapat menyebabkan beberapa permasalahan, seperti penetapan sasaran program yang tidak tepat, penyelenggaraan program tumpang tindih dan tidak sinergis, serta penetapan sasaran yang terlalu sentralistis.
Oleh karena itu, Basuri mengatakan perlunya kerja sama antara berbagai kementerian untuk menyusun sistem data yang akurat. Sistem data akurat itu, katanya, mesti terintegrasi antar kementerian. Menurutnya, selama kementerian berjalan sendiri-sendiri, pengentasan kemiskinan di berbagai wilayah Indonesia tidak akan berjalan lancar.
"Sekarang setiap kementerian mencari data sendiri. Memangnya cari data tidak butuh waktu dan tidak buang uang," ujar Basuri. (utd)