Menurut Jokowi, di berbagai tempat di Indonesia, bendera merah putih sudah dikibarkan jauh-jauh hari sebelum proklamasi kemerdekaan, di masjid-masjid maupun di pesantren. Paham kebangsaan di kalangan ulama tumbuh bersama-sama komponen bangsa lain yang juga mengusung cita-cita yang sama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika Bung Karno menyampaikan dasar-dasar negara di hadapan sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 1 Juni 1945, yang disebut dengan Pancasila, para ulama Nahdlatul Ulama menerima apa yang digagas Bung Karno. Dalam mengisi kemerdekaan, para ulama Nahdlatul Ulama juga sangat berperan dalam memberi corak rumusan akhir Pancasila.
Islam Indonesia, bukan Islam di Indonesia. “Ini adalah sumbangan otentik yang nyata para Ulama Nahdlatul Ulama. Semangat ini harus terus dikembangkan di masa yang akan datang,” ujar Presiden.
Presiden berharap para ulama Nahdlatul Ulama melanjutkan kembali jejak sejarahnya, mengambil bagian dalam menjawab tantangan bersama, dan menempatkan Nahdlatul Ulama menjadi bagian penting dari tiang penyangga Republik Indonesia berdasarkan Pancasila.
Bersama dengan berbagai elemen bangsa yang lain, Nahdlatul Ulama bisa menjadi contoh bagaimana membangun masyarakat yang damai dan rukun dalam keragaman, sehingga bangsa ini bisa menjawab tantangan kebangsaannya dalam semangat persatuan Indonesia dan gotong-royong.
Musyawarah Nasional Alim Ulama Nahdlatul Ulama yang dibuka hari ini merupakan rangkaian dari Muktamar ke 33 Nahdlatul Ulama pada awal Agustus mendatang di Jombang, Jawa Timur. (sip)