“Saya sudah sampaikan ke Kementerian Luar Negeri melalui Kementerian Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan agar Menteri Luar Negeri melayangkan protes secara diplomatik," kata Moeldoko, Selasa (16/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Malaysia masuk saat tahu pesawat kita tak ada di Tarakan atau Pontianak. Tapi setiap pesawat kita (Indonesia) ada di sana, mereka tidak mau masuk. Milsa saat pesawat kita dari jauh mau melakukan intercept (mencegat), mereka (pesawat Malaysia) sudah hilang duluan,” ujar Fuad kepada CNN Indonesia.
Menurut Fuad, Panglima TNI selalu mengirim surat ke Kemenlu tiap pesawat tempur Malaysia melanggar wilayah udara RI. “Panglima selalu buat surat ke Menkopolhukam dan Menlu supaya ajukan nota protes segera ke Malaysia," kata dia.
Moeldoko menyatakan kejadian pesawat tempur negara sahabat masuk wilayah udara RI sesungguhnya kerap terjadi, dan TNI yakin dapat menangani masalah tersebut.
TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara kini menggelar Operasi Sakti di sekitar Blok Ambalat. Kedua matra TNI itu menurunkan alat utama sistem persenjataan mereka seperti tiga kapal perang (KRI), dua pesawat Sukhoi Su-27 dan Su-30, dan tiga F-16 Fighting Falcon. (Baca juga: Jejak SBY Bangun Armada Perang)
Sejak dekade 1960-an, Indonesia dan Malaysia kerap bersitegang terkait Blok Ambalat. Puncak perseteruan terjadi pada tahun 2002, ketika Mahkamah Internasional memenangkan Malaysia atas sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan yang berada di Blok Ambalat.
Baca juga: Dibayangi Jet Malaysia, Ambalat Dicemaskan TNI Lepas dari RI (agk)