"Angkatan Darat selalu siap 24 jam," kata Gatot di Jakarta, Rabu (17/6), usai berceramah di hadapan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian, Pangdam Jaya Mayor Jenderal Agus Sutomo, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Budi Susilo Soepandji, serta lurah dan camat dari wilayah di seputar Jakarta, Depok, dan Bekasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini TNI Angkatan Laut dan Angkatan Udara menggelar Operasi Sakti di sekitar Blok Ambalat. Kedua matra TNI itu menurunkan tiga kapal perang dan jet tempur Sukhoi Su-27, Su-30, serta tiga F-16 Fighting Falcon. Ini juga untuk mencegah pesawat tempur asing yang menerobos masuk ke Ambalat yang selama ini kerap menjadi sengketa Indonesia dan Malaysia. (Baca: Sejarah Panjang Kemelut RI-Malaysia di Ambalat)
“Sembilan itu tidak kami intercept (cegat) karena tak ada di lokasi. Malaysia masuk saat tahu pesawat kita tak ada di Tarakan atau Pontianak," kata Fuad kepada CNN Indonesia, Selasa (16/6). (Baca: TNI Geram, Pesawat Tempur Malaysia Masuk Ambalat 9 Kali)
Sementara Kementerian Luar Negeri RI mengatakan akan menindaklanjuti permintaan Panglima TNI untuk melayangkan nota protes ke pemerintah Malaysia terkait pelanggaran wilayah udara itu. Bahkan menurut Juru Bicara Kemlu RI Arrmanatha Christiawan Nasir, sejak Januari 2015 Indonesia terhitung sudah mengirimkan nota protes ke Malaysia sebanyak 7 kali. (Baca: Menlu Kumpulkan Informasi Pelanggaran Udara Malaysia di RI)
TNI memperketat pengamanan di Ambalat karena khawatir blok laut yang kaya minyak itu bakal mengalami nasib serupa Pulau Sipadan dan Ligitan yang lepas dari Indonesia dan jatuh ke tangan Malaysia. (Baca: Dibayangi Jet Malaysia, Ambalat Dicemaskan TNI Lepas dari RI) (meg/meg)