Dalam sejarah dunia pelacuran Jakarta, masuknya Jepang semakin menyemarakan bisnis lendir. Budayawan Betawi Ridwan Saidi menyebut, tentara Dai Nippon merupakan pelanggan setia para pelacur Jakarta.
Adanya Gang Kaligot dan Gang Hauber sebagai kawasan pelacuran sangat disukai tentara Jepang. "Mereka mabuk-mabukan dan membuat keonaran," kata Ridwan dalam bukunya Rode Lamp van Batavia tot Jakarta. (Baca: Napak Tilas Bisnis Pelacuran Jakarta)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Akibatnya penyakit spilis atau raja singa semakin merajalela. Maklum saat itu antibiotik belum ditemukan sehingga tidak sedikit pelanggan pelacur di kawasan Senen ini harus meregang nyawa.
Jakarta pada era awal kemerdekaan adalah magnet bagi para pendatang dari daerah. Menurut Ridwan, saat itu ibu kota butuh banyak tenaga manusia untuk tenaga administrasi birokrasi pemerintahan. Selain itu, pada tahun 1955, partai politik juga membutuhkan suara untuk memenangi pemilu sehingga mobilisasi massa dilakukan.
Dalam arus urbanisasi ini menyelip pula para pekerja di bidang pelacuran. Ridwan mengatakan beberapa tempat yang jadi kawasan pelacuran baru adalah Kramat Tunggak, Rawa Bangke dan jaringan rel kereta api Tanah Abang. (Baca: Ahok: Pelacuran Mirip Sampah) (sip)