Akurasi Data Pokok Pendidikan Diragukan

Yohannie Linggasari, CNN Indonesia | Kamis, 25/06/2015 08:38 WIB
Kalangan guru dan aktivis mempertanyakan jumlah guru di seluruh Indonesia yang hanya 3,7 juta orang. Seorang siswa tuna netra mengikuti Ujian Nasioanal (UN) tingkat Sekolah Dasar pada hari kedua di SD SLBN Kota Dumai, Dumai, Riau, Selasa (19/5), dengan dibimbing guru. ANTARA FOTO/Aswaddy Hamid
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala Seksi Penyusunan Program Direktorat P2TK Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Tagor Alamsyah Harahap mengklaim telah mempunyai data guru secara lengkap di seluruh Indonesia. Beberapa kalangan guru dan aktivis mempertanyakan akurasi data pokok pendidikan (dapodik).

Guru TIK SMP Labschool Rawamangun Wijaya Kusumah, atau akrab disapa Omjay, mempertanyakan data pemerintah yang menyatakan jumlah guru di seluruh Indonesia berjumlah 3,7 juta orang.

"Apa benar jumlahnya hanya 3,7 juta orang? Bagaimana dengan guru yang swasta, apakah sudah dihitung? Pasti lebih. Pada akhirnya sebenarnya kita tidak punya data yang bisa dipercaya," kata Omjay.


Dengan sistem dapodik, Tagor Alamsyah mengaku dapat mengecek kelebihan dan kekurangan guru di seluruh Indonesia. Hal ini membuat pemerintah bisa segera menyelesaikan permasalahan distribusi guru yang tidak merata. "Data ini diperbarui setiap semester. Namun bila ada perubahan dari daerah, datanya bisa langsung diperbarui," kata Tagor saat ditemui dalam diskusi di Kantor Kemdikbud, Jakarta, Rabu (24/6).

Namun menurut Omjay, banyak guru di daerah yang tidak tahu ada dapodik. "Akibatnya, banyak guru yang belum bisa memanfaatkan dapodik," katanya.

Selain itu, Ketua Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo juga menyatakan ragu dengan dapodik. Karenanya, kemampuan pemerintah bisa segera mengatasi ketidakmerataan guru juga diragukan.

“Saya meragukan Kemendikbud punya data terkini yang valid. Selama ini mereka selalu mengacu pada data Bank Dunia yang mengatakan bahwa distribusi guru tidak merata di Indonesia. Pertanyaannya apakah benar data dari Bank Dunia itu?” kata Sulistiyo.

Sulistiyo menyarankan Kemdikbud segera membangun sistem data guru yang mutakhir dan akurat. Dengan begitu, dapat diketahui secara pasti daerah mana yang kekurangan guru dan yang kualitasnya perlu lebih ditingkatkan. (rdk)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK