Ia mengingatkan, kecelakaan pesawat TNI Angkatan Udara yang rutin terjadi setiap tahun juga akan merendahkan kewibawaan TNI di mata institusi militer negara lain.
"Berbagai peristiwa itu merendahkan efek deteren TNI terhadap negara lain, terutama yang memiliki potensi konflik dengan Indonesia, misalnya hubungan dengan Malaysia yang sebelumnya sudah memanas akibat Ambalat," ujarnya di Jakarta, Jumat (3/6).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iis memaparkan, usia sebenarnya bukan merupakan faktor utama untuk menentukan laik atau tidaknya sebuah alat tempur. (Baca: Alutsista Kuno Tak Layak Pakai Akan Dikandangkan)
"Ada faktor pemeliharaan dan perawatan. Kalau prosedur perawatan dan kemampuan personel/teknisi mumpuni, maka akan kemampuan alutsista dapat maksimal," ujarnya.
Panglima TNI Jenderal Moeldoko sebelumnya sudah mengakui, mayoritas alat angkut udara yang dimiliki institusinya dapat dikategorikan berusia tua. Akan tetapi Moeldoko berkata, pesawat-pesawat TNI AU itu masih layak terbang karena dipemeliharaan secara berkala.
"Jadi alat angkut udara kami usianya cukup tua. Tapi dengan ketekunan para anggota, luar biasa, anak-anak itu memperbaiki dan memoles hercules dengan kesabaran dan kemampuan mereka," ujarnya di Ruang Tamu Panglima TNI, Jakarta, Kamis (2/7). (Baca: Calon Panglima TNI: Beli Pesawat Baru, Rawat Pesawat Lama)
Sementara itu, Wakil Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Madya Bagus Purihito menuturkan, prajuritnya tidak pernah melalaikan aspek pemeliharaan pesawat. "Tentu ada upgrade terus, tidak beli lalu dibiarkan begitu saja," katanya.
Bagus menegaskan, sebelum pesawat TNI AU digunakan dalam operasi tertentu, pesawat itu pasti telah melalui pemeriksaan dan uji kelayakan terbang.
(obs)