Ketua IARC, Paiman Mark, mengatakan acara ini diharapkan bisa membangun hubungan antar agama dan bangsa dan juga mempersatukan umat.
"Semoga acara ini dapat menginspirasi dan memelihara toleransi di Indonesia," kata Paiman, di Pura Agung, Hotel Grand Sahid, Jakarta Pusat pada Minggu (26/7). (Baca Juga: Komnas HAM: Pemda Tak Mampu Hadapi Kelompok Intoleran)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menyadari Indonesia merupakan bangsa majemuk dari bahasa, suku dan budaya. Konflik-konflik besar seperti di awal reformasi sudah selesai," kata Din. (Lihat Juga: Jokowi Dituding Tak Berkomitmen Berantas Kekerasan Agama)
Din berharap adanya acara ini dapat menghapus potensi konflik yang ada di Indonesia. Acara dimulai pukul 10.30 WIB, dibuka dengan pembacaan Al-Quran, Sambutan Ketua IARC dan Tarian Saman.
Sebelumnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengutuk keras insiden pembakaran musala di Kabupaten Tolikara, papua, hingga mengakibatkan umat Muslim batal menjalankan salat Idul Fitri. Din Syamsuddin mengatakan insiden tersebut merupakan salah satu bukti nyata toleransi beragama di Indonesia masih rendah. (Baca Juga: MUI: Insiden Tolikara Bukti Toleransi Beragama Masih Rendah)
Apalagi, kata Din, tindakan tersebut mengatasnamakan agama dan menyerang kelompok agama lain. "Kita tak perlu berteori banyak, yang jelas ini bentuk ekstrimisme yang nyata. Ini juga bukti toleransi beragama kita masih rendah," kata Din di Jakarta, Ahad (19/7). (utd)