Meski demikian, amukan Ahok –sapaan Basuki– itu tak menyurutkan jumlah pengunjung yang datang ke acara tersebut. Mayoritas pengunjung merupakan para orangtua murid pemegang Kartu Jakarta Pintar yang tak memiliki banyak uang tunai untuk membeli perlengkapan sekolah bagi anak-anak mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, stan di JakBook dianggap tak memadai karena sempit. Jarak antarstan yang hanya sekitar 1,5 meter memuat pengunjung makin berjubel. Tenda yang menaungi stan-stan itu pun tak dilengkapi dengan kipas angin sehingga hawa amat panas.
Belum lagi mahalnya harga buku yang juga dikeluhkan pengunjung. Menurut salah satu pengunjung, buku yang harganya di pasaran Rp 45 ribu, dijual di JakBook menjadi Rp 60-75 ribu.
Senin kemarin (27/7) Ahok berang ketika menerima informasi harga perlengkapan sekolah yang dijual di JakBook malah lebih mahal ketimbang di pasaran. “Buku tulis saja di sini Rp 42 ribu, padahal di pasaran Rp 37 ribu. Ada lagi, tas di Tanah Abang dijual Rp 75 ribu, di sini Rp 170 ribu,” kata dia.
Ahok juga marah karena mendengar kabar ada guru yang memaksa orangtua murid untuk membelanjakan dana KJP di JakBook.
“Saya instruksikan kepada Kepala Dinas Pendidikan, tidak perlu lagi datang ke sini belanja,” ujar Ahok.
Ia mengimbau kepada warga pemegang KJP untuk membeli peralatan sekolah di tempat lain yang sudah bekerjasama dengan bank-bank lewat sistem pembayaran debit. Ahok mengingatkan, KJP ialah semacam ATM yang dapat digunakan di mana saja. (agk)