Meski terganggu dengan kabut asap akibat pembakaran lahan dan hutan, masyarakat tak ada pilihan lain. Rekreasi yang sudah menjadi sebuah kebutuhan tetap harus dijalankan. "Bosan sih kabut asap melulu tapi gimana ya, sudah sering terjadi,” kata seorang warga Pekanbaru, Filma saat ditemui CNN Indonesia di sebuah taman kota di Pekanbaru.
Menipisnya kabut asap pada Ahad (2/8) benar-benar dimanfaatkan untuk mencari sekadar hiburan di luar rumah. Warga Pekanbaru juga punya cara sendiri dalam menghadapi bahaya kabut asap bagi kesehatan. “Kalau buat anak-anak untuk menjaga kesehatannya, mesti diingatkan terus untuk minum air putih yang banyak setiap habis keluar rumah,” ujar Filma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat di ibu kota Provinsi Riau itu selama kabut asap tebal menyelimuti Pekanbaru terpaksa menggunakan masker penutup hidung dan mulut. Tebalnya kabut asap yang sangat mengganggu pernafasan juga membuat pemerintah kota setempat harus meliburkan kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Kepala Bidang Observasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Provinsi Riau Marzuki mengatakan kondisi kabut asap pada Ahad (2/8) mulai menipis. “Kondisi tersebut tidak hanya terjadi di Kota Pekanbaru saja,” kata Marzuki kepada CNN Indonesia.
Menurut informasi yang didapat dari radar pemantau milik BMKG Riau di Lanud Sultan Syarief Kasim Pekanbaru menunjukkan bahwa pada Minggu sejak pukul 07.00 hingga 17.00 WIB tidak terdeteksi adanya temuan titik api di seluruh wilayah Riau.
“Jarak pandang di berbagai lokasi seperti di Kabupaten Pelalawan, Siak, Kota Pelalawan, dan Kabupaten Bengkalis menunjukkan jarak pandang mencapai tujuh kilometrer,” tutur Marzuki. (obs/obs)