Hal itu ia sampaikan kala menghadiri pelantikan personalia Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Bulan Bintang (PBB) Periode 2015–2020 sekaligus Milad Ke-17 dan Halal Bihalal di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta Pusat, Senin (10/8) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Presiden lantas menjelaskan, sebagai negara demokrasi terbesar di dunia, Indonesia telah melewati ujian sejarah dalam demokrasi dengan dihelatnya pemilu pada 2014, yang penuh dinamika namun tetap berlangsung damai.
Bagi Jokowi, demokrasi substantif terkait dengan etika demokrasi dalam berpolitik. Demokrasi perlu kepatutan dalam bersikap dan bertindak, lebih dari sekadar tata cara atau prosedur.
Jokowi juga menekankan bahwa dalam setiap kontestasi pasti ada kalah dan menang.
"Yang penting apakah kontestasi diikuti dengan sikap bersaing yang hebat, mengutamakan curah ide dan gagasan, serta tidak menghalalkan segala cara untuk menang," kata dia.
"Kita perlu budaya politik bahwa pemenang pertandingan tidak jumawa, merasa besar, apalagi arogan. Sedangkan yang kalah juga harus bisa berjiwa besar dan tidak ngamuk," lanjut Jokowi.
Ia pun mencontohkan, dulu para pendiri bangsa selalu mengajarkan berjiwa lapang dan keteladanan politik secara etis. "Politik boleh berseberangan, tapi harus ada etika politik, santun, dan saling menghargai," kata sang Kepala Negara. (den)