"Memang enggak ada di rencana (RAPBN 2016)," ujar Andrinof di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Kamis (20/8).
Apalagi, menurut Andrinof, proyek tersebut diperkirakan menghabiskan dana sekitar Rp 1 triliun. Proyek yang membutuhkan pengeluaran anggaran sebesar itu, tentu perlu dikaji secara jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketiga, membangun akses publik ke Gedung DPR untuk mempermudah tamu dan publik agar bisa mengunjungi fasilitas yang ada di perpustakaan, museum, dan ruang sidang di kompleks parlemen.
Keempat, pusat pengunjung yang akan dikelola sebagai aktivitas menerima pengunjung harian untuk menimba ilmu, berdiskusi, dan berwisata. Kelima, membangun ruang pusat pengkajian legislasi dan revisi undang-undang.
Keenam, pembangunan ruang anggota dan tenaga dengan standar yang berlaku untuk semua anggota DPR dan staf pendukung. Saat ini, ujar Fahri, pembangunan sangat tidak terstruktur dan tiap anggota punya kreativitas ruangan masing-masing.
Ketujuh, integrasi kawasan untuk menghubungkan kawasan bagi anggota yang akan menjadi ikon baru dan menjadi tempat kunjungan publik.
Jangan Jebak Presiden
Sementara itu, Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Ruhut Sitompul menilai anggota parlemen terlalu terburu-buru menyiapkan prasasti pencanangan penataan kawasan kompleks parlemen. Pernyataan ini disampaikan Ruhut menyusul rencana pimpinan DPR yang meminta Presiden Joko Widodo menandatangani prasasti penataan kawasan DPR tersebut.
Menurut Ruhut, prasasti itu seharusnya disediakan setelah proyek rampung dan bukan sebaliknya. Ruhut pun mengapresiasi Jokowi yang menolak menandatangani prasasti, yang justru mencoreng wajah DPR.
"Ingat, kalau meminta itu tangannya di bawah, bukan di atas. Janganlah biasakan kasih jebakan batman kepada Pak Jokowi," ujar Ruhut di Gedung DPR-RI, Kamis (20/8).
Ruhut mengamini bahwa saat ini DPR memang membutuhkan tambahan prasaranan berupa gedung baru. Terutama untuk memfasilitasi ruang kerja anggota yang saat ini dianggap sudah jauh dari layak.
"Sekarang ini kami satu ruangan ada tujuh orang bersama dengan staf ahli. Sudah kayak kandang burung," kata dia.
Mantan pesinetron yang terkenal dengan peran sebagai Poltak raja minyak dari Medan, itu berharap anggota parlemen bisa menjaga hubungan baik dengan pemerintah. Dalam hal ini, proyek penataan kompleks parlemen tetap membutuhkan persetujuan pemerintah sebagai pengelola anggaran.
"Jadi baiklah-baiklah sama pemerintah, jangan galak-galak," kata Ruhut. (rdk)