Senin lalu, film berjudul Jenderal Soedirman untuk pertama kali diputar di depan publik. Sang pemilik hajat, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Mulyono, mendampingi Presiden Joko Widodo yang hadir dalam penanyangan perdana itu.
Sebelum ini, TNI AD juga ikut menggagas pembuatan film bertema militer yang berjudul Doea Tanda Cinta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigadir Jenderal Wuryanto mengatakan, institusinya memang terlibat langsung dalam pembuatan Jenderal Soedirman. Ia berkata, lebih dari lima puluh persen dari total biaya produksi film tersebut ditanggung Yayasan Kartika Eka Paksi.
"Ada beberapa lembaga yang membiayai, tapi mayoritas dari yayasan," ujar Wuryanto di Bioskop XXI Epicentum, Jakarta, kemarin.
Yang jelas, yayasan ini tercatat dalam terdaftar secara legal sesuai Surat Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum pada Kementerian Hukum dan HAM bernomkr C-HT.01.09-106 tanggal 17 Maret 2006.
Sementara itu, Doea Tanda Cinta memperoleh dukungan dari Induk Koperasi Angkatan Darat. Sayang, film yang tayang perdana Mei lalu ini tidak banyak ditonton publik sehingga manajemen Cineplex XXI segera menurunkannya dari daftar tayang.
Wuryanto menuturkan, lembaganya tidak terlibat langsung dalam pembuatan Doea Tanda Cinta. Tapi lain halnya dengan Jenderal Soedirman. "Kalau film yang kemarin itu hanya sepintas sedangkan ini betul-betul dipersiapkan," ungkapnya.
Lihat juga:Pembuktian Baim Wong Jadi Soekarno Lagi |
Kedua film tadi pun membawa dua pesan berbeda. Wuryanto berkata, Doea Tanda Cinta dibuat untuk mengenalkan masyarakat dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan niat dan cara memasuki dunia keprajuritan.
Di sisi lain, Jenderal Soedirman dibuat untuk mewariskan nilai-nilai kejuangan panglima Tentara Keamanan Rakyat pertama itu kepada generasi muda. "Kami ingin generasi muda mengenal sosok Soedirman. Sekarang sulit mencari tokoh nasional sebesar Soedirman," tuturnya.
Wuryanto tak sependapat jika TNI AD disebut mulai rutin membuat film bertemakan militer. Ia pun berkata, lembaganya tidak memiliki niat lain selain mengenalkan nilai-nilai kejuangan prajurit.
Kepada CNN Indonesia, KSAD Jenderal Mulyono menuturkan, ia tidak menutup kemungkinan TNI AD akan memulai proyek pengerjaan film militer lainnya. "Nanti akan kami cari lagi, nilai-nilai kepahlawanan yang bisa menjadi teladan ke depan," tuturnya. (pit)